Berita

Tun Mahathir : Islam dan Perdamaian Adalah Satu Kesatuan

IMG_6006Peperangan pada dasarnya merupakan suatu kejahatan, yang dapat menyebabkan sebuah kematian, serta kehancuran sebuah negara, dan banyak masyarakat yang tersakiti. Contohnya seperti yang terjadi di Timur Tengah, yang mana mayoritas penduduknya adalah muslim. Terjadinya perang tersebut menyebabkan penduduknya melakukan perpindahan ke negara-negara bagian Eropa, perpindahan tersebut dilakukan karena masyarakat Islam justru merasakan keamanan di negara non Islam. Keadaan tersebut cukup miris, padahal dalam agama Islam sendiri pada dasarnya sudah mengajarkan perdamaian, karena Islam dan perdamaian tersebut memang sudah menjadi satu kesatuan. Sehingga tidak bisa dipisahkan dan harus terus diperjuangkan.

Perdamaian yang telah diajarkan dalam Islam contonya pada ucapan salam dalam Islam. Ucapan salam tersebut merupakan suatu harapan akan terciptanya perdamaian untuk semua orang yang ditemui. Namun, hal tersebut kini hanyalah sebuah ucapan semata, dan tidak diwujudkan dalam perbuatan. Di sisi lain, masyarakat Islam juga masih melihat banyaknya peperangan, pembunuhan, serta pertikaian antar negara. Tapi di satu sisi lain pula, masih cukup banyak muslim mengamalkan rukun Islam, namun masih banyak juga ajaran Islam yang mereka abaikan.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Tun Dr Mahathir Mohamad dalam acara Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Studi Perdamaian dan Islam (Global Peace and Islam). Gelar kehormatan tersebut dianugerahkan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kepada Tun Mahathir pada Kamis (17/3) bertempat di Gedung Sportorium UMY.

Ditambahkan oleh Tun Mahathir, dengan mengikuti ajaran Islam kita akan menjadi sukses dalam kehidupan ini, khususnya dalam Perdamaian, namun justru banyak non-muslim yang menerapkan ajaran Islam tersebut. “Islam merupakan petunjuk hidup bagi umat manusia, khususnya dalam hal perdamaian,” tambah Tun Mahathir.

Saat ini yang menyebabkan masih banyak negara muslim yang belum berkembang menjadi negara maju karena belum seutuhnya mengikuti ajaran Islam. Padahal, jika kita mengikuti ajaran islam, negara islam akan menjadi negara yang sangat maju. Dan untuk mengimplementasikan semua ajara islam, kita membutuhkan perdamaian. “Islam dan perdamaian sudah seharusnya mejadi kesatuan untuk menciptakan negara yang maju, dengan menciptakan hal tersebut maka negara-negara Islam akan menjadi kokoh dan semakin berkembang,” ungkapnya.

Terlepas dari penyampaian pidato yang disampaikan oleh Tun Mahathir, pemberian gelar kepada Tun Dr Mahathir tersebut berdasarkan atas pertimbangan yang dilakukan oleh tim penilai yang diketuai oleh Prof. Tulus Warsito, MSi. Pertimbangan tersebut berdasarkan beberapa aspek diantaranya, atas kepedulian Tun Mahathir terhadap Perdamaian Dunia melalui lembaga Perdana Global Peace Foundation (PGPF) sejak tahun 2005. Selain itu komitmen Tun Mahathir dalam memasyaratkan kecintaan terhadap perdamaian melalui pembentukan “Criminalise War Club”. “UMY memberikan gelar tersebut selain melihat kepedulian Tun Mahathir terhadap Perdamaian dan Islam juga berdasarkan penyelenggaraan kajian Perdamaian Dunia melalui Mahathir Global Peace School (MGPS), bentuk kerjasama antara PGPF dengan UMY yang diikuti oleh berbagai kalangan ilmuwan, jurnalis dan pegiat perdamaian dari LSM seluruh dunia,” ungkap Prof. Tulus.

Prof. Bambang Cipto, selaku rektor UMY dan juga tim penilai Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa mengungkapkan, dengan pemberian gelar tersebut turut menumbuhkan upaya membangun dan melestarikan perdamaian dunia sesuai dengan ajaran Islam bagi Tun Mahathir. “Selain itu gelar ini diharapkan dapat menyebarluaskan studi intensif mengenai perdamaian dunia dalam lingkungan masyarakat muslim khususnya, dan masyarakat luas di seluruh dunia,” tutupnya. (adam)

Share This Post

Berita Terkini