Ta’dib: Menanam Adab Menuai Peradaban

Juli 8, 2013 oleh : BHP UMY

Tujuan mencari ilmu dalam Islam adalah untuk menanamkan kebaikan atau keadilan pada seluruh umat manusia dan juga pada diri sendiri. Pendidikan (ta’dib) adalah pengisian dan penanaman adab ke dalam diri manusia. Begitu yang dicantumkan oleh Syed Muhammad Naquib Al- Attas dalam bukunya Education is the instilling and inculcation of adab in man.

Hal tersebut diungkapkan kembali oleh Adnin Armas dalam acara Nasional Pembinaan Ilmuwan Islam “Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan”, acara tersebut diselenggarakan oleh Panitia Ramadhan di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (RDK- UMY).

Dauroh yang bertempat di gedung Pemuda Ambarbinangun, Sabtu (6/7) ini menjelaskan fenomena di abad ini dimana teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat. Kebangkitan pendidikan tidak terlepas dari teknologi, namun perlu adanya integrasi sikap dan cara para pemuda-pemudi, serta calon ilmuwan Islam, dalam upaya menghadapi pendidikan di era sekarang. Perubahan pandangan para muslim juga akan berubah karena perkembangan IPTEK. “Jika dipergunakan dengan benar-benar efektif, kemajuan teknologi bisa mempercepat kita mendapat ilmu” tutur Adnin.

Selain itu Adnin Armas juga menyampaikan dari pandangan Al-Attas bahwa ilmu tertinggi adalah ilmu yang dibingkai dengan ibadah. Ilmu pada tingkat ihsan, yaitu ibadah yang diraih, menjadi ma’rifah. “Al-Attas mengutip penafsiran ibn Abbas Surah adz-Zariyat; 56, yaitu li ya’budun bermakna li ya’rifun” ungkap Direktur Eksekutif Institute for The Study Islamic Thought and Islamization (INSISTS) ini.

Dauroh Nasional ini juga membahas tentang asas bagi kajian perbandingan Islam dan Barat yang disampaikan oleh Ust. Hamid Fahmy Zarkasyi Ph.D yang merupakan direktur center for Islamic and Oriental Studies Institute Studi Islam Darussalam Gontor.

Menurut Hamid Fahmy pentingnya memahami hal tersebut seiring dengan globalisasi dan perang pemikiran dewasa ini. “Di tengah masyarakat yang pluralistis denominasi kultural perlu memiliki matriknya sendiri atau pandangannya sendiri dalam melihat realitas sosial dan kultural disekitarnya” tuturnya.