Ruang apresiasi tak terbatas bagi penggiat dan peminat film Independen

Januari 13, 2011 oleh : BHP UMY

Perkembangan perfiman di Indonesia saat ini menjadi semakin pesat salah satunya dapat dilihat dari semakin bermunculannya komunitas-komunitas film independen terutama di kampus-kampus dan masyarakat pada umumnya. Fenomena ini menuntut adanya ruang apresiasi yang tidak terbatas bagi penggiat dan peminat film Independen untuk meningkatkan kualitas perfilman. Demikian pula dalam penciptaan wadah ekspresi dan kreasi mereka.

Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannya Kompetisi Film Pendek, Diskusi dan workshop produksi Film bertajuk “The Next Film Maker” yang diadakan Putra Sampoerna Foundation (PSF),bekerjasama dengan  Bogalakon Pictures dan Muhammadiyah Multimedia Kine Club (MM Kine Club) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin hingga Kamis (10-13/1).

Menurut Ketua MM Kine Club UMY, Atika Noprida, di Kampus Terpadu, Selasa (11/1), film dapat menjadi ruang kreasi dalam menyampaikan sebuah pesan yang bermakna. Namun hal ini membutuhkan pemikiran dan perencanaan yang tidak mudah, sehingga apresiasi terhadap penggiat film menjadi salah satu upaya timbal balik dari sebuah karya film.

Sebanyak lima dari tujuh belas sinopsis film terseleksi telah dipresentasikan Senin lalu (10/1) di Kampus UMY. Para penulis naskah tersebut berasal dari pelajar dan Mahasiswa se-Yogykarta yaitu, SMA N 1 Yogykarta, SMA N 1 Sewon, Universitas Mercu Buana, UGM, danUMY. Satu dari lima sinopsis terpilih akan diproduksi filmnya oleh Bogalakon Pictures yang merupakan rumah produksi yang pernah menggarap film The Conducters (2008) dan Romeo & Juliet (2009).

Selain Kompetisi Film, Setidaknya ada dua film yang diputar dalam rangkaian kegiatan ini. “Mengejar Impian” garapan Nia Dinata bersama Kalyana Shira Foundation telah diputar Selasa lalu (11/1) di SMA Negeri 1 yogykarta.  Sementara film “Hope” garapan Andibanctiar Yusuf bersama Bogalakon Pictures akan diputar Kamis mendatang di Kampus UMY. Hope merupakan Film Dokumenter berdurasi 72 menit yang mempertanyakan konsep menjadi Indonesia di era reformasi saat ini. Film ini dibintangi Panji Pragiwaksono dan Aryo Verdyantoro.

Atika mengharapkan, acara ini dapat dijadikan sarana awal dalam menciptakan figur-figur perfilman Yogykarta. Terlebih dengan telah terbentuknya Forum Komunikasi antar komunitas mahasiswa dalam bidang Film se-Yogyakarta. “Yogyakarta dan UMY memiliki orang-orang yang diperhitungkan ddi perfilman indie Indonesia, sebut saja Darwin Nugraha, dan Ismael Basbeth”, terangnya.

Darwin dan Ismael adalah beberapa lulusan UMY yang saat sering menggarap film-film independen  di Indonesia. “Ayam Mati di Lumbung Padi” misalnya, merupakan garapan Darwin yang meraih penghargaan Film Dokumeter Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2009. Selain di Jogja, The Next Filmmaker telah digelar PSF dan Bogalakon Pictures di Bandung (5/1), dan direncanakan akan digelar di Surabaya (18/1), Malang (22/1), Dempasar (26/1) dan Palembang (1/2).