Praktik manajemen laba akibatkan kerugian bagi stakeholders

April 4, 2011 oleh : BHP UMY

Praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan seringkali mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas informasi laporan keuangan. Sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman penalaran moral, idealisme, dan relativisme. Karena hal tersebut  berpengaruh terhadap penilaian etis individu atas perilaku manajemen laba laba.

Demikian disampaikan Dosen Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ietje Nazaruddin, M.Si. Akt., dalam paparan disertasinya yang berjudul “Dampak Religiusitas, Relativisme, dan Idealisme Terhadap Penalaran Moral dan Perilaku Manajemen Laba”. Disertasi tersebut telah dipertahankan pada sidang promosi Doktor Ilmu Ekonomi, di Universitas Diponegoro, Sabtu (2/4) pagi. Dalam sidang tersebut, Ietje dinyatakan lulus dengan hasil “Sangat Memuaskan” dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,65. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Dr. Imam Ghozali, M.Com., Akt., sementara Co Promotor adalah Dr. Abdul Rohman, M.Si., Akt dan Anis Chariri, SE., M.Com., Akt., Ph.D.

Menurutnya, manajemen laba  merupakan isu yang menarik untuk dikaji jika dilihat dari perspektif etika. “Penelitian ini dilatar belakangi adanya fenomena praktik manajemen laba yang sering dilakukan perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi stakeholders dan menurunkan kualitas informasi laporan keuangan. Disisi lain penelitian-penelitian manajemen laba didominasi dengan pendekatan teori keagenan.  Teori keagenan mengatakan bahwa perilaku manajemen laba terjadi karena didorong sifat oportunistik individu yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari sisi ekonomi,” terangnya.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa program pascasarjana di perguruan tinggi di Indonesia (magister manajemen, magister akuntansi dan program profesi akuntansi) yang telah dan atau sedang memegang jabatan pada tempat mereka bekerja. ”Pemilihan mahasiswa pascasarjana eksekutif dengan alasan mereka sudah paham mengenai  manajemen laba dan sudah pernah terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam organisasi yang mereka pimpin,” ungkap Ietje.

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukannya, Ietje menjelaskan penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa penalaran moral, idealisme, dan relativisme berpengaruh terhadap penilaian etis individu atas perilaku manajemen laba. ”Idealisme, religiusitas berpengaruh positif terhadap penalaran moral, sedangkan relativisme berpengaruh negatif terhadap penalaran moral. Religiusitas individu juga dipengaruhi oleh idealisme,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ietje mengungkapkan jika pengambilan kebijakan etis dipengaruhi oleh kemampuan penalaran individu. ”Hasil penelitian ini memberikan informasi tambahan pada literatur akuntansi manajemen dan keperilakuan, terutama mengenai perilaku manajemen laba,” ujarnya.

Ietje menambahkan jika penelitian ini juga memberikan implikasi kebijakan bagi organisasi profesi akuntansi maupun pimpinan perusahaan, serta akademisi. ”Pemahaman atas potensi penalaran moral, filosofi moral, dan religiusitas dalam mempengaruhi penerimaan individu atas etis atau tidak etisnya praktik manajemen laba tentunya akan membantu pihak –pihak terkait untuk mencari solusi guna mengurangi praktik manajemen laba,” urainya.

Untuk itu, Ietje berharap agar para pihak terkait mempertimbangkan cara untuk meningkatkan kemampuan penalaran moral, idealisme, dan religiusitas, serta menurunkan relativisme individu dalam upaya mengurangi praktik manajemen laba. ”Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pengadaan beragam pelatuhan dan menyusun kode etik. Selain itu, para akademisi juga mampu memberikan muatan etika yang lebih aplikatif dalam metode pembelajaran,” terangnya.