Obati Diabetes Melitus tipe 2 dengan Senam Ergonomis

Beberapa penelitian menemukan adanya peningkatan prevalensi gangguan depresi pada penderita Diabetes Melitus (DM) tipe 2. Dalam terapi fungsi depresi, olahraga khususnya senam merupakan terapi yang disarankan bagi penderita Diabetes. Senam Ergonomis menjadi senam alternatif bagi terapi tersebut.

Demikian disampaikan Aditiya Pramudya, Wiramas Ikhsan Gafar, dan Fitria Puspita Dewi. Ketiga mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK – UMY) tersebut meneliti “Pengaruh Senam Ergonomis terhadap skor depresi pada penderita  Diabetes Melitus Tipe 2”.

Menurut Wiramas yang menjadi ketua penelitian ini, terjadinya DM tipe 2 didasari atas gangguan kerja insulin akibat ketidakpekaan sel target terhadap insulin. Ia juga mengutip penelitian epidemiologi yang dilakukan WHO menunjukkan adanya peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia.

Ia mengungkapkan, seseorang dengan DM tipe 2 umumnya mengalami peningkatan gula darah yang memicu naiknya hormon kortisol, epinefrin, dan norepinefrin yang kesemua hormon tersebut menyebabkan depresi. “Pada pasien DM tipe 2 yang diikuti gangguan depresi akan menunjukkan kendali glukosa buruk dibandingkan pasien DM tipe 2 tanpa gangguan depresi. Secara psikis, depresi juga sebagai penanda adanya gangguan kepribadian yang terjadi karena penyakit DM tipe 2 yang diderita sepanjang hidup seseorang,” imbuh Wiramas di Kampus Terpadu, Jumat (17/9).

Mengingat DM adalah jenis penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan diderita sepanjang hidup seseorang, Wiramas menjelaskan apabila dalam terapi fungsi depresi, olahraga khususnya senam adalah terapi yang disarankan bagi penderita DM tipe 2. “Senam yang bisa menjadi alternatif terapi adalah senam ergonomis. Dengan senam ergonomis, seseorang dengan DM tipe 2 dapat mengontrolnya, termasuk mengelola psikisnya agar tidak merasa tertekan yang menjauhkan dari depresi,” jelasnya.

Melalui senam ergonomis, penderita DM tipe 2 dilatih untuk melakukan olah nafas, melancarkan darah dan stimulasi syaraf, serta merangsang penurunan ketiga hormon yang dapat menurunkan depresi.

Penelitian yang dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan dengan melibatkan 30 orang pasien DM tipe 2 rawat jalan di Puskesmas Kasihan 1 Bantul yang berusia 40-65 tahun. “Dalam penelitian kami, tercatat penderita DM tipe 2 paling banyak pada golongan usia 40-65 tahun,” jelas Wiramas.

Ia memaparkan hasil penelitian yang mereka lakukan menunjukkan senam ergonomis yang dilakukan penderita DM tipe 2 memberikan pengaruh dalam menurunkan skor depresi secara signifikan.

Senam ergonomis merupakan senam yang diilhami dari gerakan shalat yang mengandung fungsi autoregulasi dan adaptasi tubuh manusia dengan otak sebagai pusat pengendali. “Hasil penelitian juga menunjukkan, mereka yang menerapkan senam ergonomis secara rutin umumnya lebih tenang secara psikis,” tambah Wiramas. Senam ergonomis dilakukan tiga kali dalam sepekan dengan durasi waktu 15 menit.

Terdapat lima gerakan utama dalam senam ergonomis ini yang memiliki manfaat pada setiap gerakannya. Pada gerakan pertama, seseorang berdiri tegak pandangan lurus kedepan, tubuh rileks, tangan di depan dada dengan jari-jari sedikit meregang. “Dianjurkan bernafas dalam-dalam pada gerakan ini sehingga mereka dapat memperlancar aliran darah yang dapat mengurangi beban psikis sehingga terasa ringan dalam tubuh,” terang Wiramas.

Pada gerakan kedua, kedua tangan penderita menjuntai ke bawah yang kemudian dimulai gerakan memutar lengan. Setelah itu, tangan diangkat lurus ke depan, ke atas, ke belakang dan kembali menjuntai ke bawah. Posisi kaki dijinjit-turunkan mengikuti irama gerakan tangan. “Kaki jinjit yang dilakukan pada gerakan kedua dapat mengurangi gula darah agar tidak menumpuk di kaki. Gula darah pada penderita DM tipe 2 umumnya naik, sehingga dengan gerakan jinjit maka dapat mengurangi penumpukan gula darah di kaki dan merangsang agar syaraf kaki tidak mati rasa. Penderita biasanya mengeluhkan kaki yang mati rasa dan membengkak,” urai Wiramas.

Tidak sehatnya pola makan dan kurangnya aktifitas atau olahraga teratur, termasuk senam menjadikan seseorang rentan menderita DM tipe 2 yang menjadikan aliran darah dalam tubuh tidak lancar. “Dengan gerakan ketiga dalam senam ergonomis, hal ini dapat melancarkan aliran darah ke otak dimana syaraf tulang belakang lebih kokoh karena gerakannya mengangkat tangan lurus ke atas, kemudian badan membungkuk, tangan kemudian meraih mata kaki, dipegang kuat, ditarik, lalu dicengkeram seakan-akan mau mengangkat tubuh. Namun, posisi kaki tetap seperti semula. Pada saat itu, kepala mendongak ke posisi berdiri dan lengan menjuntai,” ucap Wiramas.

Gerakan keempat dilakukan dengan menjatuhkan kedua lutut ke lantai, posisi kedua telapak kaki tegak berdiri, jari-jari kaki tertekuk mengarah ke depan dan tangan mencengkeram pergelangan kaki. Mulai gerakan seperti akan sujud tetapi kepala menengadah, pandangan ke depan sehingga dagu hampir menyentuh lantai.

Terakhir, gerakan kelima prosedurnya dari posisi sebelumnya, kedua telapak kaki dihamparkan ke belakang sehingga duduk beralaskan telapak kaki (bersimpuh atau duduk sinden). Tangan bertolak pinggang dan mulai gerakan seperti akan sujud.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site