Manusia Sehat adalah Manusia yang Produktif

Agustus 26, 2016 oleh : BHP UMY

2V6C9692

Selama ini definisi sehat diartikan sebagai sehat jasmani saja. Namun ternyata menjadi sehat secara jasmani saja tidak cukup. Manusia yang sehat juga seharusnya adalah manusia yang produktif, yakni manusia yang dapat berbuat sesuatu bagi bangsanya.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek SpM (K) dalam Sidang Pleno II Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jum’at (26/08). Dalam pemaparannya, Nila juga menyebutkan bahwa saat ini populasi penduduk di Indonesia tengah meningkat dengan jumlah usia produktif yang paling banyak.

“Sebenarnya di dalam jumlah yang begitu banyak juga merupakan tanggung jawab untuk menghantarkan mereka menjadi manusia yang berkualitas. Piramida penduduk kita ada di tengah-tengah usia produktif, seperti usianya NA, jumlahnya cukup besar dan hampir 150 juta dibandingkan dengan total jumlah 250 juta jiwa,” ungkap Nila.

Menteri Kesehatan Ri juga mengharapkan manusia-manusia muda ini selain membantu membangun bangsa, juga membantu mereka yang sudah tidak bisa produktif dan para manula (manusia usia lanjut). Hal ini sesuai dengan dengan nawacita kelima bapak presiden Joko Widodo. Karena pada tahun 2030-2035 jumlah penduduk yang produktif ini adalah peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan bonus demografi.

“Artinya kalau jumlah besar ini produktif, tentu kita akan menjadi bangsa yang kuat sekali. Tapi kalau kita lihat usia yang produktif tadi diperkirakan 150 juta jiwa tidak menjadi manusia yang produktif, tentu peluang ini akan menjadi hilang,” tegas Nila.

Meskipun demikian, Ibu Menkes tersebut menjelaskan akan ada dua tantangan internal dan eksternal yang harus dihadapi. Secara internal, letak geografis Indonesia yang sangat luas tentu menjadikan fasilitas dan infrastruktur di setiap daerah berbeda-beda. Hal tersebut juga yang dapat mempengaruhi kualitas penduduknya, yang apabila suatu penduduk tidak produktif, maka disebut Nila, dapat menyebabkan angka kemiskinan yang meningkat di daerah tersebut.

Sedangkan dari faktor eksternal, disebut Menteri Kesehatan, bahwa Indonesia sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang berarti mobilitas penduduk dunia semakin tidak terbatas. “Sudah tidak ada batas antar negara, dan juga antar manusia. Kita mengetahui sekarang (manusia) dengan mudah melakukan urbanisasi, untuk mencukupi kehidupannya. Tidak hanya orang yang masuk ke negara kita saja, tetapi penyakit-pun juga,” tambah Nila.

Ibu Menteri juga mengingatkan agar masyarakat Indonesia mewaspadai virus ZICA, yang berasal dari nyamuk yang sama dengan nyamuk demam berdarah. Selain itu juga ada yellow fever, penyakit Ebola di Afrika, dan lain-lain. Indonesia harus mewaspadai menyebarnya penyakit dari negara asing tersebut agar tidak mewabah di Indonesia, yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat usia produktif.

Nila juga mengingatkan kepada para peserta untuk senantiasa membantu menjaga ibu hamil. Hal ini dikarenakan manusia produktif itu berasal dari ibu hamil. Harapannya setiap kehamilan ibu itu terencana dan sesuai harapan. Karena dengan demikian, kehadiran sang anak berarti diinginkan dan anak akan mendapatkan kasih sayang, yang kemudian mempengaruhi kualitasnya.

“Saat saya bertemu dengan almarhumah ibu Ainun Habibie, beliau berpesan, tolong ajarkan ibu-ibu hamil itu dengan membuka sisi otak kiri dan otak kanan. Artinya tidak hanya memberikan makanan atau nutrisi yang baik (kepada janin), tetapi juga sentuh dengan kasih sayang melalui musik dan lain-lainnya. Agar bisa terbuka otak kiri dan kanannya,” jelas Nila. (Deansa)

Sharing is caring!