ITFSS 2016 Hadirkan Tiga Pemateri dari Luar Negeri

Agustus 13, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_9623

International Tropical Farming Summer School sudah dibuka sejak hari Rabu (10/08) lalu. Summer School yang diikuti oleh mahasiswa Indonesia dan Thailand tersebut juga menghadirkan tiga pemateri asing sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Ketiga pemateri tersebut berasal dari Khon Kaen University Thailand, Eindhoven University of Technology Belanda, dan Universite Savoie Mont Blanc Prancis.

Dr. Panupon Hongpakdee dari Khon Kaen University Thailand menjelaskan bahwa ini kali pertamanya melakukan kunjungan ke Indonesia. Panupon membawakan materi tentang teknik kultivasi yang dipraktikkan di negara Thailand, terutama di bagian timur laut Thailand. “Topik yang saya bawakan adalah teknik kultivasi pada pertanian terintegrasi di daerah tropis di Thailand. Dengan studi kasus kultivasi di daerah timur laut thailand, karena daerah ini dikenal dengan produksi berasnya,” jelas Panupon.

Dr. Panupon menjelaskan kepada para peserta summer school bahwa petani di Thailand sudah memiliki cara bertani yang bervariasi. Para petani Thailand juga sudah pandai dalam mengatur (managing) cara pertanian mereka. Selain itu, kemajuan pertanian di Thailand, disebut Panupon, juga berkat dukungan pemerintah terutama raja Thailand.

“Pembelajaran tentang teknik kultivasi di Thailand juga mempelajari tentang pembedaan pemanfaatan hasil panen. Setelah hasil panen diproduksi, kemudian akan dibedakan yang mana yang akan disebarkan untuk pasar, dan yang mana yang akan dikembalikan kepada petani. Yang dikembalikan kepada petani itu selain untuk diolah kembali, juga termasuk untuk konsumsi petani sendiri,” terang Dr. Panupon.

Dr. Panupon melihat teknik bertani di Indonesia seharusnya tidak banyak berbeda dan mirip dengan yang ada di Thailand. Hal ini dikarenakan topografi Indonesia dan Thailand yang memiliki kesamaan yakni sama-sama berada di daerah tropis. “Tetapi ada beberapa praktik yang berbeda. Seperti contohnya di Yogyakarta ini kan daerah dekat dengan gunung merapi, jadi sistem pertaniannya berbeda dengan daerah di Thailand. Sementara di Thailand, para petani memiliki teknik beragam untuk memproduksi ragi, singkong, karet, dan tebu untuk kebutuhan ekonomi,” jelas Panupon.

Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah Thailand juga berwujud dengan memperkenalkan teknologi tani modern bagi para petani supaya dapat mengembangkan hasil panen mereka. Produk-produk tersebut merupakan hasil penelitian seperti bagaimana mengatur vertilasi, bagaimana cara meningkatkan persiapan benih kedelai sebelum proses penanaman, dan juga cara pemasaran hasil panen. “Jika kamu memproduksi banyak produk (pertanian), tetapi tidak tahu cara memasarkannya maka tidak mungkin untuk memajukan sistem (pertanian),” tegas Panupon.

Sementara itu, Patrick van Schijndel, ahli energi dari Technical University of Eindhoven mengapresiasi diadakannya summer school selama 9 hari ini. “Meskipun saya bukan agricultural engineer, saya berusaha untuk mengajarkan sedikit materi tentang energi kepada mahasiswa. Terutama energi yang berkaitan dengan pertanian. Dan saya lihat, para peserta sangat antusias dan tertarik. Saya berharap ke depannya program summer school akan lebih panjang (waktunya), dan dapat melakukan penelitian bersama tentang producing energy,” tutup Patrick.

Sharing is caring!