Hindari pasar tumpah, pemudik dapat tekan kemacetan

September 22, 2010 oleh : BHP UMY

Kegiatan pulang kampung atau mudik yang telah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat Indonesia perlu menjadi perhatian tak hanya bagi pemerintah dalam menyediakan segala fasilitas, namun juga para pemudik yang menjadi pengguna jalan. Banyaknya pasar tumpah (tiban) yang muncul menjelang dan saat arus mudik dan saat arus balik perlu dihindari para pemudik untuk menekan tingkat kemacetan.

Demikian disampaikan pakar transportasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyu Widodo, di Kampus Terpadu, Kamis (9/9).

Menurutnya, mudik menjelang Lebaran merupakan sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dan sudah sangat melekat bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Untuk itu, mudik perlu menjadi perhatian semua pihak yang terkait, termasuk pemerintah maupun masyarakat sendiri dalam mempersiapkan dan menjalankan tradisi yang hanya ada di negeri ini.

Banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua dalam mudik, diakui Wahyu, karena mereka tidak memiliki pilihan lain untuk membawa keluarga dan barang kecuali sepeda motor.

Wahyu juga menghimbau kepada para pemudik untuk menghindari pasar tumpah yang selalu menimbulkan kemacetan dan keramaian. “Macet dan kecelakaan sebenarnya sesuatu yang bertolak belakang. Idealnya macet bisa menurunkan tingkat kecelakaan. Namun dalam kenyataannya, semakin macet, maka jumlah kecelakaan pun meningkat. Untuk itu, para pemudik mampu berhati-hati saat melewati pasar tumpah yang pasti menimbulkan kemacetan terlebih para penyeberang jalan,” imbuhnya.

Sementara itu, perjalanan rombongan para pemudik juga perlu diwaspadai karena ini dapat meningkatkan kemacetan dan risiko kecelakaan. “Selain itu, para pemudik umumnya menginginkan segera sampai tujuan. Ketidak hati-hatian dari pengendara pribadi yang tak biasa melakukan perjalanan jauh, terutama bagi masyarakat yang baru pertama kali melakukan mudik harus diperhatikan. Seberapa bagus kondisi jalan, kunci keselamatan ada pada pengguna jalan sendiri untuk menjaga keselamatan,“ tambah Wahyu.

Ia menegaskan jika masyarakat yang hendak mudik tidak cukup dengan hanya memahami keselamatan berkendara, namun mereka juga perlu mengikuti aturan dalam berkendara. “Harus ada kesadaran dari para pengguna jalan utuk tetap mengikuti aturan dalam berkendara dengan sopan dan beretika. Jika hal ini dilanggar, hal ini tak hanya merugikan dirinya sendiri namun juga pengguna jalan lainnya,” urai Wahyu.

Untuk meminimalisir jumlah kecelakaan di jalan raya, Wahyu merekomendasikan agar para pemudik untuk memanfaatkan ruang istirahat (rest area) yang banyak tersedia di sepanjang area mudik hingga mengecek alat transportasi seperti rem, pemberian tekanan yang cukup pada ban hingga kelengkapan lampu kendaraan.

Sharing is caring!