Angkat Budaya, ICF 2017 Diharap Satukan Perbedaan Antar Negara

Maret 23, 2017 oleh : BHP UMY

Hubungan antar negara satu dengan negara lain banyak dikaitkan dengan hubungan di bidang ekonomi dan politik saja. Meskipun demikian, bidang kebudayaan dan pendidikan dinilai sebagai bentuk hubungan yang memiliki pengaruh besar dalam mempersatukan perbedaan yang ada antar negara.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. saat membuka International Cultural Festival (ICF) 2017 di lantai Dasar Masjid KH Ahmad Dahlan UMY pada Kamis (23/03). Dalam sambutannya, Gunawan berharap ICF dapat menjadi pemersatu antar mahasiswa asing dengan mahasiswa UMY.

“Setiap negara pasti memiliki perbedaan yang signifikan, terutama pada hal politik dan ekonomi. Hubungan antar satu negara dengan negara lain tidak bisa disatukan dengan politik saja. Justru budaya dan pendidikan yang dapat mempererat hubungan keduanya. Selain itu, representatif dari budaya itu adalah makanan. Setiap negara memiliki makanan khas yang berbeda-beda. Oleh karenanya di ICF dihadirkan kuliner dari beragam negara untuk dapat memperkenalkannya ke mahasiswa,” jelas Gunawan.

Sementara itu, Kepala Biro Kerjamasa, Indira Prabasari, Ph.D., menyampaikan bahwa ICF 2017 merupakan event tahunan ketiga yang sudah diselenggarakan oleh UMY. Ia berharap bahwa ICF dapat terus menerus dilaksanakan setiap tahun dengan agenda yang semakin besar, karena jumlah mahasiswa internasional yang ada di UMY yang jumlahnya semakin meningkat di setiap tahunnya.

“Tahun ini ada 20 negara yang ikut di ICF 2017, sedangkan tahun lalu ada 17 negara. Jadi ada tambahan dari 3 negara, karena partner UMY juga semakin banyak dari negara lain. Selain dihadiri para mahasiswa dari 17 negara, ada juga instruktur bahasa Italia yang ikut andil, karena ia berniat memperkenalkan citarasa orisinal makanan asal italia,” terang Indira.

20 negara yang turut hadir meramaikan ICF 2017 antara lain Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Turkmenistan, Singapura, Italia, Perancis, Timor Leste, Mesir, Malaysia, Vietnam, Spanyol, Turki, Ukraina, China, Rusia, Yaman, Slovakia, Filipina, dan Laos. Selain 20 negara tersebut, ada pula stand mahasiswa KKN Internasional asal Singapore Polytechnic, dan stand Institut Francais de’Indonesie (IFI).

Indira menambahkan bahwa Ia berharap ICF mampu menjadi ajang perkenalan dengan mahasiswa asing di UMY dan ajang berbagi bagi sesama mahasiswa asing. “Biasanya mahasiswa dari kampus utara tidak mengenal mahasiswa asing yang ada di kampus selatan. Disini kami mencoba mempertemukan antar mahasiswa UMY dari semua Fakultas, dengan mahasiswa asing yang ada di UMY. Supaya mahasiswa dapat berkumpul bersama, bertukar cerita, dan membentuk network. Selain itu juga agar mahasiswa asing saling mengenal satu sama lain, karena biasanya mereka memiliki kesamaan rasa, jadi biar mereka bisa saling sharing,” tutup Indira. (deansa)