Ulama dan Ormas Islam Harus Satu Suara Tanggulangi COVID-19

April 10, 2020 oleh : BHP UMY

Di tengah menyebarnya pandemi Covid-19 di Indonesia, peran ulama menjadi sangat penting karena keberadaan dampak merebaknya virus novel Corona juga mempengaruhi kegiatan beragama masyarakat muslim Tanah Air. Untuk itu, seluruh ulama dan organisasi masyarakat (Ormas) Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk dapat satu suara dalam mengeluarkan arahan dan himbauan kepada umat. Terlebih, umat Muslim itu lebih suka mendengarkan Da’I yang menjadi idolanya.

Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag. dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FAI UMY) menjelaskan bahwa ulama harus dapat bersikap bijak dalam kondisi seperti saat ini. Ia berpendapat bahwa pemuka agama dituntut untuk memberikan arahan yang tepat dan juga menenangkan.

“Rasulullah meminta kalau ada wabah di sebuah tempat, anda tidak usah pergi ke sana. Tetapi kalau anda mengalami wabah itu, jangan keluar dari tempat anda. Di situlah sikap bijak ulama, untuk membuat umat tetap tenang,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya di UMY, Kamis (8/4).

Muhsin juga menyampaikan bahwa muslim harus bersikap bijak dalam menghadapi situasi saat ini. Namun ia juga tidak dapat menyalahkan umat Islam di Indonesia yang mengambil sikap sendiri-sendiri. Hal ini terjadi karena tidak adanya sosialisasi yang jelas kepada masyarakat dari pemegang kebijakan. Maka dalam hal ini, pemerintah harus melibatkan para Da’i dan ormas Islam untuk berbicara satu suara agar tidak ada perbedaan pendapat dan sikap yang dapat merugikan di kemudian hari.

“Seharusnya umat Islam bersikap proporsional, tapi sikap proporsional semacam apa yang harus diambil? Karena mereka belum punya pilihan, akhirnya mereka memilih sendiri-sendiri. Dalam hal ini ulama juga punya peran. Tetapi ulama juga harus diberi bahan oleh pemerintah, supaya fatwanya betul-betul tepat. Karena ulama juga belum tentu tahu tentang virusnya. Jangan sampai informasi yang diberikan para ulama setengah-setengah,” imbuh mantan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Saat ini para ulama, penceramah dan mubaligh tidak seluruhnya mempunyai informasi yang sama tentang apa yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. Setiap ulama juga memiliki jamaahnya masing-masing. Muhsin khawatir jika tiap ulama menyampaikan informasi yang berbeda-beda maka akan menyebabkan kebingungan pada masyarakat.

Karena umat Muslim memiliki kecenderungan untuk mengikuti da’i yang menjadi idolanya, MUI seharusnya memiliki satu bahasa dan kebijakan yang sama mulai dari tingkat pusat sampai ke bawah. Setelahnya, ormas seperti Muhammadiyah dan NU juga perlu merujuk kepada Fatwa MUI agar tidak membuat masyarakat bingung. Baru kemudian himbauan itu disampaikan kepada jamaah oleh masing-masing ustad atau penceramah.

“Seharusnya ada satu kata yang bisa dipakai oleh para ulama, mubaligh dan da’i untuk mengatakan sesuatu kepada masyarakat. Sehingga masyarakat mempunyai sikap yang tepat terhadap sesuatu yang kita prihatinkan bersama,” tutupnya. (Ak)