Haedar: Guru Besar Muhammadiyah Harus Jadi Panduan Umat

Juli 29, 2019 oleh : BHP UMY

Saat ini dunia mengalami perubahan dalam kecepatan luar biasa yang menghasilkan gejolak, ketidakpastian, kerumitan serta ambiguitas dalam banyak aspek kehidupan. Terlebih dalam era post-truth saat ini yang memungkinkan setiap pihak untuk mengklaim opininya sebagai kebenaran tanpa peduli dampaknya secara luas yang bisa saja menjadi sebuah bias atau malah hoaks. Di sini kemudian kaum intelektual harus bisa menjadi penengah yang dapat memberikan panduan dan solusi atas polemik yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ketum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si., dalam Silahturahim Guru Besar Muhammadiyah pada hari Minggu (29/7) di gedung AR Fachrudin A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar menyampaikan bahwa di tengah perubahan ini para guru besar Muhammadiyah perlu menjadi rambu yang dapat mengarahkan kepada kebenaran dan kebaikan. “Jangan sampai para intelektual ini terbawa dengan pola pikir pendek yang marak saat ini dan kehilangan perspektifnya dalam memandang luasnya isu dan problem yang terjadi. Anda harus bisa mencegah masyarakat jatuh dalam taqlid (mengekor) buta dan memberikan solusi yang lebih baik dan bermanfaat. Ini alasan kenapa Muktamar yang kita adakan setiap tahun selalu berusaha mengatasi isu-isu strategis yang terjadi di masyarakat, bukan untuk keren-kerenan tapi demi memberikan jalan keluar yang sesuai dengan nilai Islam yang berkemajuan,”ungkapnya.

Haedar menyebutkan para guru besar Muhammadiyah tersebut harus menjadi basis penghasil keilmuan yang kokoh. “Saat ini Muhammadiyah memiliki 235 guru besar dan salah satu tugas anda kepada masyarakat adalah sebagai peningkatkan kebebasan dan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan pemikiran yang maju sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih dalam kondisi semangat masyarakat untuk berislam sangat tinggi saat ini, karenanya kontribusi pemahaman bayani, burhani dan irfani dalam suatu isu menjadi sebuah kebutuhan utama,” ujarnya.

“Pasalnya dalam beberapa hal, masyarakat kita terlalu banyak mengomentari dan menggugat masalah yang terjadi di sekitarnya dan sedikit sekali yang membahas akar penyebabnya, kita jadi lebih sering ribut di hilir padahal yang harus ditangani adalah hulunya. Misal pada isu politik, kita semua mengeluh dengan praktik politik yang terjadi saat ini dan banyak sekali menggerutu tentang pelakunya, padahal yang harusnya kita bahas adalah tata kelola dari politik ini sendiri. Apa ada yang rancu atau malah salah dengan sistem yang berlaku kini dan bagaimana kita bisa memperbaikinya. Kemudian pada aspek ekonomi juga, dengan berkembangnya konsep ekonomi syariah saat ini harusnya yang menjadi fokus adalah bagaimana ini menjadi solusi yang membangun. Bukan bagaimana kita membuat banyak ‘syariah’ dan kemudian malah tidak memajukan ekonomi umat dan Islam itu sendiri,”paparnya.

Haedar mengungkapkan bahwa melalui forum guru besar yang terbentuk tersebut nantinya akan melahirkan manfaat kepada Islam dan kemaslahatan umat secara luas. “Harapan utamanya adalah melalui forum ini, Muhammadiyah akan menjadi pusat keunggulan untuk berbagai isu, mengingat kiprah kontribusi dari para guru besar ini sangat luas pada banyak bidang. Ini menunjukkan potensi dan kekuatan dahsyat dari Muhammadiyah dan semoga ini bisa benar-benar dimanfaatkan dan dirumusan dalam konteks Islam yang berkemajuan,” tutupnya. (raditia)