Budidaya Bubuk Lada Sebatik, Sebuah Inovasi Baru KKN GBN UMY di Daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia

September 7, 2019 oleh : BHP UMY

Kuliah Kerja Nyata (KKN) 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) salah satunya dilaksanakan di Perbatasan Indonesia-Malaysia. Bertempat di Pulau Sebatik, mahasiswa dari KKN 3T Generasi Bakti Negeri (GBN) UMY memberikan sebuah terobosan baru dengan memanfaatkan potensi alam yang terdapat di desa Bambangan, kecamatan Sebatik Barat.

Dihubungi oleh tim jurnalis Biro Humas dan Protokol UMY, Sabtu (7/9) Muh. Idham mengatakan bahwa potensi alam yang terdapat di desa Bambangan salah satunya adalah pada bidang pertanian. “Potensi alam yang terdapat di desa ini, salah satunya adalah dalam bidang pertanian, yaitu lada. Banyaknya rempah yang satu ini memberikan manfaat bagi masyarakat desa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Idham.

“Lada merupakan salah satu tanaman yang menjanjikan di posisi kedua setelah kelapa sawit. Sayangnya, pengelolaan selama ini dirasa belum begitu maksimal, sehingga berakibat pada omset pemasukan di desa ini. Salah satu faktor penyebabnya, dikarenakan kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan dan pemasaran produk lada,” tambahnya.

Idham mengatakan bahwa sebuah terobosan baru dilakukan KKN GBN UMY untuk membantu masyarakat dalam memberikan sosialisasi dan penyuluhan mengenai budidaya bubuk lada. “Masyarakat di desa ini masih mempunyai kendala yang harus dihadapi terkait pengelolaan lada, khususnya kurang pahamnya mereka dalam pemakaian alat yang telah disediakan oleh BUMdes setempat. Pada kesempatan ini, tim dari KKN GBN UMY memberikan arahan dan sosialisasi langsung kepada masyarakat dalam pemakaian alat yang ada agar masyarakat dapat mengerti dan kelak dapat menggunakan alat ini,” ujar Idham lagi.

“Masyarakat melakukan dua kali percobaan, percobaan pertama alat tersebut dianggap sukses karena masyarakat yang hadir dapat memahami dan menerapkan apa yang disampaikan saat sosialisasi. Pada percobaan kedua, dikatakan hampir 80 persen dari para petani lada dapat menggunakan alat tersebut dan juga sudah dapat dilihat outputnya yaitu berupa produk lada sebatik yang langsung dibeli oleh pembeli di tempat dengan harga Rp. 8000/40gram. Program ini dirasa dapat menjanjikan sebagai suatu mata penceharian baru untuk masyarakat Desa Bambangan, tinggal bagaimana pengelolaan serta mengurus surat perizinan produk Bubuk Lada Sebatik (Bulatik) agar dapat didistribusikan ke dalam hingga luar negeri,” tutup Idham (CDL)