Warung Prancis UMY Ajak Mahasiswa Diet Penggunaan Sampah Plastik

September 25, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_9205Perubahan iklim merupakan permasalahan global yang banyak diperbincangkan di Indonesia maupun diseluruh dunia. Perbincangan tersebut banyak menyoroti dampak dari perubahan iklim yang sehubungan dengan aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Aktifitas manusia yang mengalami perubahan secara drastis akibat berkembangnya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang secara menyeluruh telah membawa pengaruhnya terhadap perubahan iklim di seluruh dunia. Salah satu dampak dari terjadinya perubahan iklim tersebut yaitu penggunaan kantong plastik yang secara berlebihan. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca. Salah satu akibat dari efek rumah kaca adalah meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya. Peduli terhadap kondisi tersebut, Warung Prancis UMY bekerjasama dengan IFI Jogja (Institute Francais Indonesia) mengadakan kegiatan Pesta Sains 2015 sejak tanggal 21-25 September.

Seperti dijelaskan oleh Puthut Ardianto, S.Pd., M.Pd, selaku penanggung jawab Warung Prancis UMY, serangkaian acara Pesta Sains 2015 terdiri dari pameran sains terkait isu perubahan iklim, seminar, dan juga pemutaran film. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk ajakan dan penyadaran kepada masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa agar peduli terhadap isu mengenai perubahan iklim yang terjadi saat ini. “Untuk mengatasi perubahan iklim yang salah satu dampaknya disebabkan oleh penggunaan plastik yang berlebih, sudah seharusnya masyarakat, khususnya mahasiswa sadar, dan mengurangi penggunaan plastik, yang salah satu caranya yaitu dengan diet plastik, ketika sedang berbelanja”, ungkapnya. Diet plastik penting untuk ditanamkan sejak dini, karena semakin hari tingkat penggunaan plastik di Dunia, khususnya di Indonesia semakin meningkat.

Senada dengan Puthut, Madame Kristin, selaku Direktur Utama IFI Jogja, mengungkapkan, saat ini temperature panas bumi semakin meningkat, dan masih banyak masyarakat yang belum sadar akan dampak tersebut. Indonesia dan Prancis, serta negara-negara lainnya saat ini sedang mengalami permasalahan yang sama, yaitu permasalahan terkait perubahan iklim yang tidak menentu. “Terjadinya perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi tersebut terkadang membawa dampak yang buruk bagi masing-masing negara di dunia, acara seperti ini penting untuk diselenggarakan, agar dapat mengedukasi masyarakat, khususnya mahasiswa yang masih belum paham akan kondisi bumi yang saat ini yang semakin memprihantinkan,” ungkapnya.

Seminar yang diselenggarakan pada Selasa (22/9) bertempat di Mini Teater Gedung D lantai 4 kampus terpadu UMY tersebut mengangkat tema Seminar Ilmiah Energi Terbarukan dan Perubahan Iklim, dengan pembicara Dinar Arif Prasetyo selaku Presiden Direktur Energi Bersih Indonesia (ENEBI). Melihat kondisi iklim saat ini yang tidak dapat diprediksi, perlu adanya pengembangan energy terbarukan, yang pada dasarnya dapat menjadi media solusi dari perubahan iklim yang akan terjadi. “Energi terbarukan merupakan jembatan antara pemerintah dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki permodalan yang cukup besar untuk mengolah energi terbarukan sebagai solusi dari dampak perubahan iklim, sumber energi terbarukan yang dapat dikelola saat ini yaitu seperti pemanfaatan angin, atau matahari, sebagai sumber energi,” ucapnya.

Ditambahkan Dinar, perlu adanya sosialisasi ke masyarakat terkait energi terbarukan, karena saat ini pengetahuan masyarakat Indonesia masih minim terkait dengan pemanfaatan energi terbarukan. “Keterlibatan akademisi atas hal ini sangat diperlukan, sebagai wadah keilmuan dalam mengolah energi terbarukan, yang setelahnya dapat disosialisasikan kepada masyarakat atas keunggulan dan manfaat dari penggunaan energy terbarukan, karena pengetahuan masyarakat atas hal tersebut masih sangat minim,” tambahnya. (Adam)