Usung Folklore, UMY ikuti paduan suara tingkat nasional

Juli 22, 2010 oleh : BHP UMY

Dengan mengambil genre lagu folklore atau kategori yang bertemakan lagu daerah, Paduan Suara Mahasiswa Sun Shine Voice – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PSM SSV – UMY) ikuti Festival Paduan Suara (FPS) XXII di Institut Teknologi Bandung 2010, Sabtu (24/7) mendatang. Tercatat 40 anggota choir dan lima official team akan terlibat dan dalam perlombaan tingkat nasional ini.

Pelatih PSM SSV-UMY, Wisnu Cahyadi mengungkapkan tahun ini merupakan kali keempat UMY mengikuti FPS dan hal ini diharapkan menjadi jembatan bagi kelompok paduan suara (choir) untuk mengikuti perlombaan yang bertaraf internasional. Sebelumnya, PSM SSV-UMY mengikuti ajang ini sejak 2004 dan meraih medali perak pada perlombaan yang sama.

Sementara itu Ketua PSM SSV-UMY, Niken Agustin mengatakan dalam perlombaan ini timnya menyiapkan empat lagu daerah, yaitu Janger (lagu asal Bali) dan Soyang (Jawa Tengah) yang akan dinyayikan pada babak kualifikasi dan Jali-jali (Betawi) serta Romo-Romo Ono Maling (Jawa Tengah) untuk babak kompetisi final.  Lagu Janger akan dinyanyikan secara acapela oleh timnya. Kompetisi jenis folklore ini akan diikuti 20 tim paduan suara seluruh Indonesia.

Dipilihnya genre folklore, diakui Niken, karena jenis lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang menantang dari genre lainnya. “Dengan menyanyikan lagu jenis folklore, tingkat kesulitan muncul karena kita tidak boleh sekadar menyanyikan lagunya tanpa mengetahui dan memahami arti dari lirik lagu daerah tersebut. Jika hal itu terjadi, maka kita tidak akan mendapatkan feel atau rasa dari lagu tersebut sehingga suara yang ditampilkan pun tidak indah karena tidak menjiwai lagu,” urainya.

Oleh karenanya selain menyanyi, Ia dan timnya perlu mempelajari bahasa daerah dimana lagu itu berasal. “Setelah tahu artinya, kita akan lebih mudah dalam mengekspresikan lagu tersebut melalui vokal,” tambahnya. Dalam mempelajari bahasa daerah lagu yang akan dinyanyikan, mereka terbantu dengan adanya anggota yang memang berasal dari daerah lagu tersebut. “Dipilihnya folklore ini juga menunjukkan Indonesia memiliki banyak lagu daerah dengan bahasa daerah beragam yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Tingkat kesulitan lain dalam persiapan lagu adalah menyatukan suara para anggota choir. Sebagai contoh, untuk menyanyikan lagu Janger, tim PSM SSV-UMY dibagi menjadi delapan suara. “Pembagian ini diperlukan untuk memfokuskan latihan dan memudahkan pelatih agar suara yang dihasilkan seluruh tim bisa sesuai dengan nada lagu,” papar Niken. Ia berharap, PSM SSV UMY ini nantinya bisa menjadi pelopor paduan suara muslim yang berjaya di ajang nasional.