UMY Tanam 1200 Pohon di Merapi

Februari 13, 2012 oleh : BHP UMY

Pasca erupsi Merapi 2010, Desa Kepuharjo digolongkan sebagai daerah zero off (tidak bisa dihuni lagi). Bekas desa ini akan dijadikan hutan lindung kawasan Taman Nasional Gunung Merapi oleh pemerintah DIY. Untuk itu, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta turut andil dalam rangka penghijauan tersebut. FP UMY menyediakan bibit dan membantu penanaman kembali/reboisasi kawasan desa Kepuharjo dengan menanam 1200 pohon yang meliputi pohon Jeruk Siam, Alpukat, Cengkeh, dan Nangka.

Demikian disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian UMY, Ir. Sarjiyah, di sela-sela acara “Gotong-Royong Penanaman Pohon” bersama warga Dusun Jambu, di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman pada Sabtu (11/2) siang. Acara ini melibatkan seluruh sivitas akademik FP Pertanian UMY.

Sarjiyah mengatakan, hal ini adalah bentuk kepedulian UMY terhadap kejadian pasca erupsi Merapi. “Kami merasa perlu untuk ikut melakukan penghijauan. Untuk bibit tanaman, yang diberikan memang sengaja berupa pohon buah, agar hasil buahnya bisa dinikmati oleh masyarakat sendiri. Pohon buah tersebut meliputi Pohon Jeruk Siam sebanyak 360 pohon, Alpukat 240 pohon, Cengkeh 240 pohon, dan Nangka 360 pohon,” jelasnya.

Menurut Sarjiyah, kegiatan yang dilakukan tersebut merupakan kegiatan rutin, mengingat Desa Kepuharjo merupakan desa binaan UMY. “Masyarakat di sana tidak hanya diberi bibit. Tapi nanti akan ada pengarahan agar pohon tersebut bisa tumbuh dengan baik dan buahnya bagus. Selain untuk penghijauan, buah yang nantinya dihasilkan dari pohon-pohon itu tentu akan sangat bermanfaat bagi warga sendiri,” tambahnya.

Rektor UMY, Ir. H. M. Dasron Hamid, M.Sc, yang turut hadir dalam acara tersebut, menghimbau agar masyarakat dapat mengelola dengan baik bibit yang sudah ditanam. “Masyarakat memang kami himbau agar dapat merawat tanaman dengan baik, disiram, dipupuk dengan rajin, agar apa yang sudah ditanam hari ini kelak akan dapat dirasakan hasilnya. Mungkin, buah yang dihasilkan dari pohon ini tidak akan mereka rasakan sekarang, tapi akan dirasakan anak cucu mereka. Memang tidak bisa langsung, karena semua butuh proses. Nantinya, buah yang dihasilkan juga dapat bernilai ekonomis,” ujarnya. (intan)