UMY Prakarsai Sekolah Perdamaian

Mei 29, 2013 oleh : BHP UMY

Masih banyaknya isu-isu ketidakadilan, kekerasan dan penindasan, menjadi hal yang masih sangat perlu untuk diselesaikan. Dalam rangka inilah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Perdana Global Peace Foundation (PGPF) Malaysia, memprakarsai Sekolah Perdamaian di Indonesia. Sekolah Perdamaian yang diberi nama “Mahatir Global Peace School” ini akan berjalan selama dua minggu terhitung sejak tanggal 3-15 Juni 2013.

Demikian disampain Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, selaku ketua pantia saat ditemui di Kantor Biro Humas dan Protokoler, Kampus Terpadu UMY. Menurutnya, sekolah perdamaian ini merupakan sebuah forum internasional yang mengangkat tentang isu-isu perdamaian dunia.

Kegiatan yang akan diwujudkan dalam bentuk seminar dan pertemuan tingkat pakar ini akan merumuskan 3 hal, yaitu penyamaan persepsi tentang perdamaian yang dilandasi dengan berlakunya nilai-nilai keadilan antar sesama manusia. “Kedua, menyamakan persepsi tentang pentingnya menjaga perdamaian di muka bumi, dengan berlandaskan pada hak dan kewajiban manusia. Dan ketiga, mencari peluang perubahan konsep perdamaian dalam bentuk kurikulum pendidikan,” jelas Gunawan.

Adapun tujuan diselenggarakannya sekolah perdamaian ini, menurut Wakil Rektor I UMY ini, adalah untuk mencari resolusi konflik yang tidak lagi diselesaikan melalui kekerasan fisik. “Para pakar dunia juga telah sampai pada satu kesimpulan yaitu *the war is criminal*, perang itu merupakan tindak kriminal. Sehingga, penyelesaian-penyelesaian konflik yang lebih didasari pada nilai-nilai kemanusiaanlah yang sebenarnya akan membawa perdamaian” ujarnya.

Selain itu, Gunawan juga menjelaskan mengenai nama kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu secara spesifik memang mengambil nama salah seorang tokoh, yaitu Tun Dr Mahathir Muhammad. Ini karena Mahathir dikenal dengan organisasi non bloknya dan fokus kajiannya yang mengangkat tentang ketidakadilan, kekerasan dan penindasan yang ada di muka bumi. “Ia juga dikenal dengan rekonstruksi pemikirannya mengenai perdamaian dalam perspektif humanitas antar negara dan antar ras,” jelassnya.

Adanya sekolah perdamaian ini juga diharapkan dapat membantu para pakar, pegiat, pelajar, mahasiswa, atau masyarakat umum dalam merekonstrusi maksud atau kata dari perdamaian itu sendiri. Namun menurut Gunawan, dengan semakin meningkatnya nilai akademis seseorang maka dia akan semakin bisa menyelesaikan konflik. “Resolusi konflik yang bukan lagi dengan kekerasan, tapi dengan diplomasi. Sehingga tidak ada lagi kekerasan fisik.”

Selain Tun Dr Mahathir Mohamad yang akan menjadi keynote speaker, “Mahatir Global Peace” ini juga akan mengundang tiga keynote speaker lainnya. Mereka adalah Dr. H. M. Jusuf Kalla, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, dan Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif. “Kami juga mengundang para pegiat, pemerhati, pakar lain, mahasiswa, serta masyarakat umum yang tertarik dalam upaya-upaya rekonstruksi pemikiran perdamaian di permukaan bumi,” pungkas Gunawan lagi.

Masih banyaknya isu-isu ketidakadilan, kekerasan dan penindasan, menjadi hal yang masih sangat perlu untuk diselesaikan. Dalam rangka inilah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Perdana Global Peace Foundation (PGPF) Malaysia, memprakarsai Sekolah Perdamaian di Indonesia. Sekolah Perdamaian yang diberi nama “Mahatir Global Peace School” ini akan berjalan selama dua minggu terhitung sejak tanggal 3-15 Juni 2013.

Demikian disampain Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, selaku ketua pantia saat ditemui di Kantor Biro Humas dan Protokoler, Kampus Terpadu UMY. Menurutnya, sekolah perdamaian ini merupakan sebuah forum internasional yang mengangkat tentang isu-isu perdamaian dunia.

Kegiatan yang akan diwujudkan dalam bentuk seminar dan pertemuan tingkat pakar ini akan merumuskan 3 hal, yaitu penyamaan persepsi tentang perdamaian yang dilandasi dengan berlakunya nilai-nilai keadilan antar sesama manusia. “Kedua, menyamakan persepsi tentang pentingnya menjaga perdamaian di muka bumi, dengan berlandaskan pada hak dan kewajiban manusia. Dan ketiga, mencari peluang perubahan konsep perdamaian dalam bentuk kurikulum pendidikan,” jelas Gunawan.

Adapun tujuan diselenggarakannya sekolah perdamaian ini, menurut Wakil Rektor I UMY ini, adalah untuk mencari resolusi konflik yang tidak lagi diselesaikan melalui kekerasan fisik. “Para pakar dunia juga telah sampai pada satu kesimpulan yaitu *the war is criminal*, perang itu merupakan tindak kriminal. Sehingga, penyelesaian-penyelesaian konflik yang lebih didasari pada nilai-nilai kemanusiaanlah yang sebenarnya akan membawa perdamaian” ujarnya.

Selain itu, Gunawan juga menjelaskan mengenai nama kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu secara spesifik memang mengambil nama salah seorang tokoh, yaitu Tun Dr Mahathir Muhammad. Ini karena Mahathir dikenal dengan organisasi non bloknya dan fokus kajiannya yang mengangkat tentang ketidakadilan, kekerasan dan penindasan yang ada di muka bumi. “Ia juga dikenal dengan rekonstruksi pemikirannya mengenai perdamaian dalam perspektif humanitas antar negara dan antar ras,” jelassnya.

Adanya sekolah perdamaian ini juga diharapkan dapat membantu para pakar, pegiat, pelajar, mahasiswa, atau masyarakat umum dalam merekonstrusi maksud atau kata dari perdamaian itu sendiri. Namun menurut Gunawan, dengan semakin meningkatnya nilai akademis seseorang maka dia akan semakin bisa menyelesaikan konflik. “Resolusi konflik yang bukan lagi dengan kekerasan, tapi dengan diplomasi. Sehingga tidak ada lagi kekerasan fisik.”

Selain Tun Dr Mahathir Mohamad yang akan menjadi keynote speaker, “Mahatir Global Peace” ini juga akan mengundang tiga keynote speaker lainnya. Mereka adalah Dr. H. M. Jusuf Kalla, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, dan Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif. “Kami juga mengundang para pegiat, pemerhati, pakar lain, mahasiswa, serta masyarakat umum yang tertarik dalam upaya-upaya rekonstruksi pemikiran perdamaian di permukaan bumi,” pungkas Gunawan lagi.