Umat Muslim Harus Siap Hadapi Tantangan Post-Modernisme

Januari 15, 2015 oleh : BHP UMY
Para pembicara Seminar Nasional saat memaparkan materi seminar dengan tema Rekontruksi Identitas di Era Post Modernisme

Para pembicara Seminar Nasional saat memaparkan materi seminar dengan tema Rekontruksi Identitas di Era Post Modernisme

Islam memiliki 3 model dalam pemahaman Islam yaitu Tradisional, Modernisasi, dan Post-Modernisme, dari ketiga model tersebut tentu setiap perubahannya pasti akan ada ketegangan-ketegangan. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi umat muslim. Umat Islam pun dituntut untuk bisa mengahadapi tantangan tersebut agar nantinya tidak ada yang terjerumus pada hal-hal negatif, seperti tumbuhnya aliran-aliran sesat dengan mengaitkan ajaran Islam yang berkembang  di negara muslim maupun di negara non-muslim.

Demikian disampaikan Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A saat menyampaikan materi pembahasan dalam acara “Seminar Nasional: Rekonstruksi Identitas Muslim Di Era Post-Modernisme”, yang dilaksanakan oleh BEM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada hari Rabu (14/1) di Gedung AR. Fachrudin B Lt. 5 UMY. Selain itu, dalam acara tersebut juga turut mengundang Dr. Muhammad Azhar, M.A dan Dr. Fahmi Salim, M.A selaku pembicara, serta ditemani oleh Anton Ismunanto, S. Pd. I selaku moderator dalam acara tersebut.

Menurut Dr. Ali Musri, kebangkitan Islam ini terjadi karena ada kehendak dari Allah dan Rosulnya. Sehingga seharusnya Islam itu dijadikan sebuah pedoman hidup dalam segala lini kehidupan baik secara individu maupun dalam taraf kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itulah, umat Muslim seharusnya tak perlu merasa minder dengan bangsa Barat, sebab saat ini populasi umat Islam di dunia terus meningkat setiap tahunnya, dan memang sudah ada data yang akurat untuk membuktikannya.

“Hakekat dari kebangkitan Islam adalah lahirnya umat yang bertaqwa. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya populasi Islam di dunia, sekarang juga banyak pakar-pakar dunia yang masuk Islam. Bukan hanya itu saja banyak sumber kekayaan alam yang ada di negara Islam, banyak konsep kebudayaan Islam yang ditiru oleh orang Barat, misalnya pada sistem bank syariah, saat ini negara Prancis sedang mengembangkan itu. Jadi, initinya adalah sampai hari kiamat nanti Agama Islam akan terus tetap eksis, “ tegasnya.

Namun, dengan adanya kebangkitan Islam tersebut, lanjut Dr. Ali, umat Islam tetap perlu memahami dan mengahadapi ketegangan yang akan terjadi pada Islam Post-Modernisme . Banyak yang perlu dipersiapkan pula untuk menghadapi tantangan tersebut, misalnya menyiapkan landasan teori untuk memahami perubahan Post-Modernisme. “Karena dengan ketidakpahaman ini pasti akan menimbulkan ketegangan. Misalnya banyak munculnya Islam Sekuler, Islam Tradisional, dan Islam Radikal. Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya pemahaman atas perubahan-perubahan Islam yang saat ini mulai berkembang. Ada ciri-ciri peradaban pada Post-Modernisme misalnya dengan menghormati dan saling toleransi. Toleransi di sini bukan berarti toleransi dengan kemungkaran tetapi melakukan toleransi dengan pedoman amar ma’ruf nahi munkar, “ ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Fahmi Salim, M.A menjelaskan bahwa ada 2 model kebangkitan Islam yakni Generasi Salahudin dan Generasi Mahmet Al-Fatih. Pada Generasi Salahudin ini terjadi Perang Salib pada tahun 1095 oleh Paus Urbanus yang akhirnya pada tahun 1099 pasukan Salin berhasil merebut Jerussalem dan 70000 umat muslim dibantai. “Karena itulah akhirnya pada tahun 1106  Al-Ghazali bangkit dan menulis kitab Ihya Ulumiddin untuk panduan agama dan pada tahun 1127 Abdul Qadir mendirikan madrasah. Sedangkan pada Generasi Mehmet Al-Fatih adalah generasi Muslim yang menjadikan keunggulan ibadah dan keshalehan personal menjadi pedomannya. Hal ini dapat dibuktikan bahwa tentara Al-Fatih saat itu tidak pernah meninggalkan sholat fardhu sejak akil baligh dan setengahnya tidak pernah meniggalkan sholat tahajud sejak akhil baligh sekalipun dalam keadaan perang,” jelasnya.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Dr. Muhammad Azhar, M.A bahwa Islam itu pernah memimpin dunia selama 8 abad (800 tahun), sedangkan orang barat baru memimpin 2 abad (200 tahun). Itu artinya, kalau mau mengalahkan orang Islam, orang Barat butuh waktu 600 tahun. “Untuk itu kita perlu mengahadapi tantangan ini, agar islam tetap bangkit dari keterpurukan. Dan yang paling penting adalah bahwa kita tetap harus kembali pada Al-Quran dan Hadist, karena dari pedoman itulah problem-problem yang ada bisa terselesaikan. “Dan yang paling penting untuk diperhatikan agar umat muslim terus bangkit adalah dengan menghindari rasa malas agar generasi umat muslim memiliki kader-kader yang baik, “  ungkapnya.