Sisi Gelap Demokrasi di Indonesia

Mei 29, 2013 oleh : BHP UMY

_MG_2426Demokrasi yang selama ini dibanggakan oleh banyak negara tak terkecuali Indonesia ternyata memiliki sisi gelap. Banyak sekali terjadi penyimpangan-penyimpangan demokrasi yang membuat demokrasi tidak berjalan dengan baik.

Demikian disampaikan oleh Dr. Zuly Qodir, M.Si. dalam acara Bedah Buku “Negara, Pasar dan Labirin Demokrasi” karya Ade M. Wirasenjaya, Rabu (29/05) di Ruang Simulasi Sidang Ilmu Hubungan Internasional (HI) Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Zuly menjelaskan bahwa dalam buku karya dosen Program Studi (Prodi) HI UMY ini merupakan sebuah protes dan kritikan terhadap sistem demokrasi yang membuat sistem di Indonesia hanya dikendalikan oleh pasar. “Di sinilah yang menjadi sisi gelap dari demokrasi. Demokrasi erat kaitannya dengan globalisasi dan AS sebagai pencetus globalisasi menawarkan janji-janji yang faktanya hanya akan merugikan Indonesia,” jelasnya.

Dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini memaparkan bahwa globalisasi hanya akan menambah kesenjangan masyarakatnya. “Dengan adanya globalisasi hanya akan menambah tingkat masyarakat miskin di Indonesia, selain itu globalisasi hanya akan memperburuk keadaan negara ketiga tidak terkecuali Indonesia,” paparnya.

Selain itu, di buku ini juga di tekankan bahwa selama ini Indonesia hanya menjadi budak politik barat saja. “Selama ini Indonesia lebih suka mengabdi kepada World Trade Organization (WTO), World Bank, International Monetary Fund (IMF) dari pada harus membuat kebijakan yang mensejahterakan rakyatnya sendiri,” tandasnya.

Sehingga nantinya Imbuh Zuly, Demokrasi hanya sekedar simbol dari sistem negara kita saja. “Demokrasi hanya akan menjadi pesta perebutan kekuasaan lima tahun sekali tanpa adanya pemikiran untuk menyelesaikan masalah yang ada, tidak hanya itu Demokrasi akan memberikan peluang bagi orang-orang yang mau mengambil keuntungan di dalamnya dan kasus korupsi nantinya akan semakin merajalela,” imbuhnya.

Disamping itu, Ade menuturkan bahwa kita tidak bisa menghindari globalisasi karena globalisasi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari manusia. “Namun, kita harus melihat kembali struktur dari globalisasi itu sendiri yang sebagian besar merugikan negara berkembang seperti Indonesia karena kita dituntut untuk mengikuti politik dunia yang dipimpin oleh Barat yang membuat peran pasar lebih besar dari peran negara,” tuturnya.