Usia 36 Tahun, UMY Diharap Pertahankan Kualitas Akademik

Maret 1, 2017 oleh : BHP UMY

Berdiri selama 36 tahun terhitung sejak 1 Maret 1981, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sudah mampu menorehkan banyak prestasi baik di tingkat nasional, maupun internasional. Kedepannya, tantangan yang harus dihadapi oleh UMY adalah mempertahankan kualitas yang selama ini sudah dimiliki.

Dalam agenda Malam Refleksi, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., menyatakan bersyukur atas predikat UMY sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam acara yang diselenggarakan di Sportorium UMY pada Selasa malam (28/02) tersebut, Syamsul mengungkapkan bahwa UMY juga termasuk dari 3 perguruan tinggi Muhammadiyah yang mendapatkan akreditasi A.

Meskipun demikian, Syamsul menambahkan, UMY dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan semua prestasi yang dimiliki, terutama menjelang umur yang ke-40 tahun. “Dalam hal ini kita mungkin perlu memperhatikan teori Ibnu Khaldun, yang berpendapat bahwa puncak kejayaan institusi sosial, pada usianya ke-40 tahun. Setelah itu, institusi tersebut akan mengalami kemerosotan. Tetapi yang diucapkan Ibnu Khaldun itu pada zamannya dan di era dinasti. Tentu sangat berbeda dengan institusi seperti perguruan tinggi dan dalam situasi dan kondisi yang berbeda,” jelas Syamsul.

Syamsul menghimbau, meskipun demikian, UMY tidak boleh lengah karena persaingan dengan universitas lain juga akan semakin ketat. “Mungkin kita tidak mundur secara kualitas dan kuantitas. Kita tetap maju, tetapi bisa saja kita didahului institusi yang melesat lebih cepat. Itu yang perlu diwaspadai. Semoga di usia 36 ini masih tergolong usia yang muda untuk mampu lebih berlari lagi,” ujar Syamsul.

UMY sebagai institusi yang bertujuan memajukan dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi, diharapkan Syamsul selalu memperhatikan pelaksanaan catur dharma perguruan tinggi Muhammadiyah. Catur Dharma yang dimaksud ialah Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan yang keempat ialah Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Sehingga untuk melaksanakan Catur Dharma tersebut, UMY perlu menggaris bawahi adanya Ukhuwah atau kebersamaan dan Ta’awun atau saling bekerjasama dengan sesama civitas akademika.

Tantangan bagi UMY lainnya adalah dalam menyelaraskan tagline Unggul dan Islami. “Hubungan antara ilmu dan agama itu tidak selalu mulus. Contohnya ada dalam sejarah ilmuwan di Eropa yang dahulu selalu dikejar-kejar agamawan Kristen. Dalam Islam memang tidak begitu, tetapi bukan berarti tidak ada konflik antara agama dengan ilmu. Seperti contohnya Ilmuwan Al-Ghazali yang menganggap teori keilmuan yang dikembangkan seperti Ibnu Sina dan ilmuwan lainnya adalah bentuk dari penyimpangan agama. Untuk itu, tantangan bagi UMY dalam konteks unggul dan Islami, bagaimana agar dapat mempertemukan agama dan sains,” tutur Syamsul. (deansa)