Secara Insting, Kita Lebih Tertarik Dengan Berita Buruk

Mei 19, 2017 oleh : BHP UMY

Kenapa kita lebih sering mendengar berita buruk? Saat melihat atau mendengar berita di media, kebanyakan isinya berita buruk. Hal ini karena otak kita memliki kecenderungan kepada hal-hal buruk diandingkan hal yang baik yang disebut negativity bias. Negativity bias ini berasal dari jaman nenek moyang kita, hal-hal buruk dan berbahaya lebih cepat direspons oleh otak kita karena itu mengancam keselamatan kita. Bagian otak yang merspon hal negatif lebih sensitif daripada bagian otak yang merespon hal positif. Hal inilah yang menyebabkan otak kita secara insting lebih memperhatikan berita atau kabar yang buruk.

Hal ini yang dijelaskan oleh Gerald Sebastian, salah satu Co-Founder channel edukatif “Kok Bisa?” dalam acara Digital Storytelling Workshop yang diadakan oleh American Corner (Amcor) UMY di Ruangan Amcor UMY gedung D lt 2 pada Kamis sore (18/5). Di sisi lain pemberitaan buruk lebih disebabkan konflik kepentingan yang ada di industri media. “Seperti kita ketahui bahwa berita yang ada di media adalah karya dari jurnalis. Para jurnalis ini seringkali mengalami konflik kepentingan dari atasannya dan terpaksa menulis berita negatif tentang suatu peristiwa. Akibatnya para jurnalis menulis demikian karena takut kehilangan pekerjaannya,” jelasnya sambil memutarkan video.

Oleh karenanya perlu dilakukan literasi media agar kita semakin kritis terhadap pemberitaan yang ada. “Masyarakat Indonesia kebanyakan sangat reaktif menanggapi suatu berita. Begitu mendengar atau melihat berita langsung bereaksi dan berkomentar. Media literasi belum banyak diterapkan di Indonesia. Padahal literasi media bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca Koran, menonton tv, mendengarkan radio lalu menganalisis perbedaannya. Setelah itu kita membuat ulang berita tersebut, sehingga kita bisa jadi kritis kepada media,”ujarnya.

Sementara itu, Sebastian Partogi, Reporter The Jakarta Post juga membeberkan pengalamannya terkait jurnalistik. Menurutnya, belajar jurnalistik lebih dari sekedar belajar menulis. “Jurnalistik secara definisi diartikan sebagai sebuah kegiatan penyampaian informasi kepada publik, untuk kepentingan publik. Dan dalam prakteknya, kegiatan utama yang ada di dalamnya adalah menulis. Namun, belajar Jurnalistik lebih dari sekedar menulis, jauh dari itu kita juga melatih pola pikir kita. Pola pikir yang kita gunakan bukan hanya dalam tulisan, juga dalam kegiatan lainnya,”ungkapnya.

Seorang jurnalis harus meletakkan elemen-elemen dasar yang membedakan seorang jurnalis dengan yang lainnya. “Pertama harus independen dan mengakomodir kepentingan publik. Kedua, menjunjung tinggi kebenaran dan verifikasi. Kemudian relevan, komprehensif dan proporsional. Hal ini yang membedakan jurnalis dengan tukang sebar hoax atau mereka yang hanya ingin jualan semata,”jelasnya.

Reporter yang sering disapa Ogi ini juga mengomentari kondisi jurnalis saat ini. Menurutnya jurnalis saat ini harus serba bisa dan fleksibel. “Pasalnya tren saat ini terdapat konvergensi media. Apalagi dengan media online orang akan lebih cepat mengakses berita. Dengan kata lain, dalam konten yang sama, nggak cuma tulisan yang ada, tetapi juga gambar, foto, video bahkan infografis yang dimuat. Jurnalis dituntut serba bisa saat ini,”tuturnya. (bagas)

Biro Humas dan Protokol