SDM dinilai sebagai Faktor Penting Hadapi MEA

November 7, 2016 oleh : BHP UMY

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang identik dengan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara selalu menghadirkan isu atas kualitas produk Indonesia yang akan diekspor ke luar negeri. Namun demikian, faktor produk bukan merupakan permasalahan satu-satunya dalam MEA, melainkan Sumber Daya Manusia (SDM) juga dinilai sebagai salah satu faktor penting lainnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh H.A. Malik Fadjar, salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dalam Kuliah umum program Vokasi UMY di Ruang Sidang Gedung AR Fakhruddin A lantai 5 pada Sabtu (05/11). Kuliah umum program Vokasi UMY tersebut mengangkat tema tentang Strategi dan peran pendidikan tinggi Vokasi dalam menghadapi MEA dan Globalisasi.

Malik juga menjelaskan bahwa MEA merupakan ajang persaingan antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. “Dalam persaingan tersebut, yang akan memenangi persaingan adalah yang memiliki SDM yang banyak. Setiap SDM tersebut harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), kompetensi, dan jaringan kerja untuk dapat melahirkan produk unggulan,” ujar Malik.

Sedangkan program Vokasi sendiri disebut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut sebagai pendidikan kejuruan. “Program vokasi merupakan pendidikan yang mempersiapkan mahasiswanya untuk menghadapi lapangan kerja. Atau dalam istilahnya disebut sebagai Education for Work,” jelas Malik.

Dengan demikian, Malik menilai bahwa mahasiswa program Vokasi harus dapat lebih mempersiapkan diri secara matang dalam membantu Indonesia menghadapi MEA. Persiapan yang dimaksud mencakup pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan dan kompetensi, serta jaringan kerja.

Selain pada bidang diatas, mahasiswa Vokasi UMY, sebagai salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah, disebut Malik juga harus memiliki nilai-nilai AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan). “Pendidikan AIK punya arti dan peranan yang antara lain sebagai sumber nilai moral etika, motivasi, kreasi dan inovasi, sublimasi, dan juga integrasi. Sehingga berpegang pada IPTEK saja tidak cukup, dan harus juga menyertakan nilai-nilai AIK dalam menghadapi MEA ini,” tegas Malik.

Malik juga menyampaikan harapannya kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta agar tidak hanya memberikan ilmu umum saja kepada para mahasiswanya. “Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai unsur kekuatan pengusung Islam dan Indonesia berkemajuan dan telah memiliki prodi vokasi, harus mampu merubah orientasi dengan paradigma education for work berbasis kompetensi yang bernafaskan AIK sekaligus memeloporinya,” tutup Malik. (Deansa)