Satu-satunya Universitas Swasta, Mahasiswa UMY Lolos Jadi Member IAAS

Februari 15, 2019 oleh : BHP UMY

International Association of Students in Agriculture and Related Sciences (IAAS) adalah Non Government Organization (NGO) untuk mahasiswa dan mahasiswi pertanian di seluruh dunia. Di IAAS Indonesia, tercatat ada 11 member dari beberapa Universitas di Indonesia. Namun, tahun ini melalui Kongres Nasional yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur pada 26 sampai 29 Januari 2019, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menjadi satu-satunya universitas swasta yang juga ikut tergabung dalam member IAAS Indonesia.

UMY melalui dua perwakilan mahasiswanya dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, berhasil menyabet rekor baru bagi universitas swasta di Indonesia. Maki Lukmanul Hakim dan Annisa Rahma Fatika berhasil menyisihkan lawan dari sembilan universitas lain yang ikut seleksi. Pada saat pendaftaran IAAS terdapat sembilan universitas yang mengajukan, dan hanya tiga universitas yang berhasil lolos, salah satunya adalah UMY.

Saat ditemui pada Kamis (14/2) Maki menjelaskan lolosnya UMY menjadi member di IAAS Indonesia. “Ini menjadi sejarah, karena kami menjadi satu-satunya universitas swasta sekaligus Perguruan Tinggi Muhammadiyah pertama, yang bisa masuk ke organisasi Internasional seperti IAAS. Adapun yang kami lakukan untuk mengikuti Kongres Nasional IAAS di Indonesia adalah, melakukan proses pengajuan berkas terlebih dahulu, dari sembilan universitas yang mengajukan, hanya tiga universitas yang berhasil lolos pengajuan member, yaitu UMY, Universitas Udayana, dan Universitas Negeri Jember,” jelasnya.

IAAS di Indonesia didirikan pada tahun 1992 yang memiliki slogan “Think Globally Act Locally” dengan tujuan agar dapat menjadi platform mahasiswa Indonesia untuk dapat bertukar pikiran, gagasan, dan aksi nyata dengan mahasiswa lain di seluruh dunia. IAAS Indonesia memiliki komite lokal yang sudah tersebar di universitas-universitas di Indonesia dengan program utama seperti pertukaran pelajar nasional dan internasional.

Maki juga menambahkan mengenai pemaparan apa saja yang dilakukan saat kongres tersebut berlangsung. Universitas yang turut serta menjadi member saat ini adalah UMY, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gajah Mada, Univesitas Sebelas Maret, Unversitas Lambung Makurat, Universitas Mataram, Universitas Udayana, dan Universitas Negeri Jember.

“Semuanya universitas negeri, dan kami kemaren mencoba untuk menjadi member dan alhamdulilah lolos menjadi kadidat member. Untuk satu tahun ini kami masih dalam masa percobaan member, apakah layak atau tidak nanti tahun depan baru mendapat keputusan full member atau tidak. Program unggulan dari IAAS yaitu magang nasional dan magang internasional. Magang nasionalnya ada di 10 kota yang tergabung dalam member tersebut, sedangkan magang internasionalnya ada di 40 negara member. Magangnya untuk seluruh mahasiswa pertanian di universitas yang telah menjadi member tersebut. Kita akan dilibatkan di acara-acara internasional yang berkaitan dengan pertanian, seperti program dari FAO (Food and Agriculture Organization) milik IPB, serta mengikuti program-program internasional lainnya yang berhubungan dengan pertanian,” tambahnya.

Mahasiswa yang pernah menjadi juara tiga dalam Panah Merah Innovation Awards September 2018 silam ini, juga menceritakan proses seleksi yang dilakukan guna berhasil lolos menjadi member di IAAS tahun ini. “Proses seleksinya cukup panjang, karena kami mempersiapkannya selama satu tahun. Yang kami lakukan yaitu, mengirimkan berkas untuk pengajuan, kemudian seleksi interview terbagi dari berbagai sesi, ada interview secara online dan langsung. Kami juga dihadapkan pada delapan member IAAS dan satu nasional komite dan asosiasi. Walaupun kami dari kampus swasta tapi kami menekankan bahwa kami ini layak untuk menjadi member di IAAS tahun ini. Kami punya SDM yang baik, lingkungan kampus yang bagus, juga dengan program-program yang kami tawarkan. Walaupun kami menjadi satu-satunya member dengan predikat kampus swasta di IAAS, yang terpenting kami bisa membuktikan bahwa prestasi kami tidak kalah dengan mereka,” pungkas Maki. (CDL)