Praktisi PR Harus Mampu Prediksi Krisis

Mei 17, 2018 oleh : BHP UMY

Seorang Humas bertanggung jawab untuk memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi. Untuk itu, Program Studi Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations (PR) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan seminar bertajuk “PR TALK : How Manage Your Crisis for Create Positive Reputation” pada Selasa (15/5) gedung KH Ibrahim Kampus terpadu UMY. Hampir 160 mahasiswa komunikasi menghadari acara tersebut dan dilibatkan dalam diskusi interaktif bersama narasumber.

Endah Prasetioningtias selaku Public Affair & Internal Communication Manager Sari Husada menyampaikan bahwa dunia Public Relations adalah dunia yang sangat dinamis. Karenanya para praktisi PR harus mampu melihat dan mengantisipasi setiap peluang untuk menjaga reputasi baik perusahaan. “Setiap isu yang berkembang memiliki potensi untuk menjadi krisis. Sebelum hal itu terjadi, sudah seharusnya TIM Manajemen Isu dan Krisis bekerjasama untuk meredam dan memberikan statement yang jujur kepada media maupun publik,” paparnya.

Endah menambahkan bahwa contoh krisis yang dialami oleh perusahaan Sari Husada tahun 2008 yang diterpa dengan isu susu yang diproduksi oleh perusahaan tersebut tercemar oleh bakteri Sakazakii. “Dengan adanya isu seperti ini tentunya hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang PR tidak langsung memberikan press conference dari pihak perusahaan. Namun, menghadirkan terlebih dahulu para ahli gizi maupun dokter untuk dapat menjelaskan secara detail tentang kandungan bakteri tersebut,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Adhianty Nurjanah, M.Si selaku dosen Program Studi Ilmu Komunikasi bahwa seorang Public Relations harus memiliki sense of Crisis. “Krisis bukanlah hal yang terencana dan diinginkan. Karenanya sebagai seorang PR kita harus memiliki sense of crisis. Hal ini terlihat dari bagaimanan PR harus proaktif dalam melihat lingkungan. Kemudian harus mampu menganalisis tanda – tanda atau langkah apa yang harus di lakukan pertama kali untuk menghadapi publik, dan yang terpenting adalah memonitor media sebagai dampak pengaruh paling besar kepada stakeholder,” tandasnya.

Lebih lanjut Adhianty menuturkan bahwa seorang PR juga harus mampu memprediksi dari awal terhadap terjadinya suatu krisis baik dari internal, external dan lingkungan. “Jika krisis itu sudah terjadi maka tim manajemen krisis harus sigap dalam mengelola krisis
tersebut yakni melakukan perencanaan, identifikasi, tetapkan strategi dan komunikasi. Kemudian saya tekankan terhadap mahasiswa bahwa seorang PR harus memahami manajamen krisis secara jelas karena itu akan mempengaruhi citra dan reputasi suatu perusahaan maupun institusi. Harapan saya dengan adanya seminar ini mahasiswa bisa menambah wawasan dan pemahaman ilmu PR secara praktis dan mendapatkan gambaran umum bagaimana pengelolaan krisis,” imbuhnya. (Sumali)