Perkembangan Dunia Mode Di Indonesia Masih Belum Aman Dari Plagiarisme

Desember 24, 2018 oleh : BHP UMY

Berbicara tentang fashion, banyak hal yang bisa dijelaskan mulai dari proses perancangan hingga bentuk jadinya. Dalam kesempatan ini Warung Prancis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mencoba memberikan edukasi fashion terutama soal bagaimana sebuah kriya itu tercipta dan memiliki nilai sebelum dinikmati oleh para pecintanya. Selain itu bagaimana kondisi dunia mode Indonesia sendiri yang belakangan cukup memprihatinkan khususnya perihal plagiarisme.

Melalui tangan-tangan designer yang kreatif, sebuah produk baju atau semacamnya dapat memiliki prestis tinggi, hingga ranah bisnis pun bisa disentuh. Dalam rangka memberikan edukasi mengenai fashion tersebut, WP UMY menggelar agenda tahunan bertajuk Camp du Luvre ‘Mode and Societte’ 2018 di Gedung D Lantai 2 Kampus Terpadu UMY, Rabu (19/12).

Puthut Ardianto selaku dosen Pendidikan Bahasa Inggris sekaligus pimpinan WP UMY menjadi salah satu pembicaranya. Dia memberikan materi singkat mengenai bagaimana perkembangan fashion yang ada di Indonesia khususnya Yogyakarta. Terlebih Puthut juga memiliki ketertarikan di dunia fashion, dimana ia merupakan pemilik dari produk Lemospires. Produk baju yang dihasilkan Lemospires didapat melalui teknik jumputan, dan menjadi ciri khas yang coba ia tampilkan.

“Berawal dari kesukaan saya menggambar design baju, kemudian saya berevolusi untuk menuangkannya ke kain dan menjadi signature. Jumputan menjadi ciri khas dari kriya yang saya ciptakan, dimana itu merupakan seni membuat sebuah kriya menggunakan ikat tali dan dicelup, atau dengan kata lain yakni teknik ikat celup. Design yang saya buat belum pernah ada karena saya mencoba mengikuti jejak pengrajin seni kriya untuk mencoba menciptakan dan mengkreasikan kriya itu sendiri sebelum dibuat menjadi sebuah barang jadi. Dan ini sudah saya mulai sejak tahun 2010,” tutur Puthut.

Berangkat dari hal yang disukainya yakni fashion, Puthut mengatakan dirinya masih merasa perkembangan dunia mode di Indonesia belumlah sepenuhnya aman dari praktik plagiarisasi. “Hal yang mengerikan di dunia mode di Indonesia adalah plagiarisme, itu yang tidak bisa dihindari. Seperti contoh Pemkot Yogyakarta meluncurkan batik namanya ceplok segoro amarto, satu bulan diluncurkan bulan depan sudah keluar printingnya, itu miris sekali. Tapi hal itu sudah disomasi karena batik tersebut sudah memiliki hak cipta. Jadi sudah diberi hak cipta saja masih ada orang yang melakukan praktik itu,” ujarnya.

Camp du Luvre merupakan acara workshop pertama yang diadakan WP UMY yang bertujuan untuk memperkenalkan salah satu ikon dari Prancis sendiri yakni fashion, kepada mahasiswa atau masyarakat umum yang memang berminat dalam bidang tersebut. Selain Puthut Ardianto, ada juga Riris Avilla selaku pemilik produk Avilla yang bergerak di bidang fashion kain batik ecoprint yang turut memberikan pengalamannya dalam dunia fashion. (Habibi)