Perguruan Tinggi Muhammadiyah Punya Peran Vital Hadapi Era Disruptif

Maret 16, 2019 oleh : BHP UMY

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu dari ratusan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang bergerak di bidang pendidikan. Pada kurun waktu yang terbilang singkat yaitu 38 tahun, UMY berhasil menjalankan tugasnya untuk berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa. Sekertaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, mengatakan bahwa UMY harus bisa menjadi lembaga pendidikan yang bisa memecahkan permasalahan yang muncul di era Revolusi Industri 4.0.

“Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai institusi pendidikan Muhammadiyah paling tidak memiliki tiga fungsi utama. Fungsi yang pertama sebagai institusi pendidikan, kemudian sebagai intitusi dakwah, dan yang terakhir sebgai tempat untuk beramal,” ujarnya saat menyampaikan ceramahnya pada Malam Refleksi Milad UMY ke-38, pada Kamis (28/2) di Masjid KH. Ahmad Dahlan Kampus Terpadu UMY.

Keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang tetap eksis dan dapat memberi manfaat kepada umat hinga saat ini merupakan hasil dari kerja keras tiap orang yang berada di dalamnya. Karena telah meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan juga dari proses belajar mengajar. Abdul Mu’ti mengatakan hal ini harus selalu dilakukan, karena tentangan zaman semakin berbeda. Saat ini banyak sekali orang yang merasa ahli dengan ilmu yang sebetulnya tidak dikuasai dengan baik, karena mereka dapat dengan mudah mengakses informasi melalui internet.

“Sekarang ini banyak orang merasa memiliki otoritas keilmuan walaupun dia bukan seorang doktor bukan pula seorang professor. Jadi sekarang ini dengan teknologi yang ada, seseorang itu bisa merasa ahli dalam sebuah bidang,” imbuh Abdul Mu’ti.

Dengan ini UMY memiliki peran vital dengan bertanggung jawab untuk menangkis fenomena orang – orang awam yang merasa ahli pada suatu disiplin ilmu dengan kegiatan ilmiah di dalam ataupun di luar lingkungan kampus. Sehingga dalam menghadapi kemajuan zaman berbasis teknologi, perguruan tinggi tetap punya jati diri. Pentingnya memiliki jati diri di era revolusi industri 4.0 agar lembaga pendidikan bisa memiliki nilai tersendiri, bukan terbawa arus yang muncul di tengah masyarakat. Pendidik dan juga mahasiswa harus mencari ilmu yang hendak dipelajari melalui buku atau karya dari orang yang telah ahli secara keilmuan, bukan melalui tulisan – tulisan yang berada di internet bahkan media sosial. “Akademisi Muslim, terlebih Muhammadiyah yang dirujuk harusnya bukan dari literasi di media yang tidak diketahui siapa pembuat dan dari mana asalnya,” katanya.

Abdul Mu’ti kembali mengatakan bahwa perkembangan teknologi juga memberikan pengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap hukum – hukum mengenai agama. Hal tersebut dibuktikan dengan umat Islam sekarang lebih memilih untuk merujuk kepada tokoh agama yang popular daripada kepada ulama yang telah memiliki kredibilitas. Walau terdapat ulama atau tokoh agama memiliki keahlian dalam bidang agama tetapi tidak terkenal di kalangan masyarakat, maka perkataannya kurang didengarkan. Hal ini terjadi karena masyarakat lebih sering mendengarkan ceramahnya yang tersebar di media sosial. Berangkat dari fakta tersebut, perguruan tinggi khususnya PTM memiliki tuntutan untuk merebut wacana popular yang menjangkiti umat saat ini.

“Hadirnya kampus sebagai lembaga dakwah, harus dimaksimalkan sebagai kanal penyalur informasi yang wasathiyah dan berkemajuan. Disertai dengan rujukan keilmuan yang runtut dan terukur, sehingga umat tercerahkan,” pungkasnya.

Pada akhir ceramah, Abdul Mu’ti berharap agar terdapat integrasi yang terjalin antar disiplin ilmu di UMY. Dengan ini ia berharap alumni UMY bisa berdakwah kepada masyarakat melalui ilmu yang telah dikuasai. Serta bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah masyarakat yang semakin beragam. “UMY ini kan memliki banyak fakultas, saya kira jika selalu diberi bekal agama, maka pada tahun – tahun kedepannya alumni – alumni bisa membawa Islam yang berkemajuan bagi masyarakat,” pungkasnya. (ak)