Penganut Agama Resmi Alami Krisis Kepercayaan

Januari 15, 2014 oleh : BHP UMY

_MG_8800Agama resmi saat ini tengah mengalami krisis kepercayaan dari para penganutnya. Praktek ajaran agama resmi dirasa terlalu menekankan pada ritualitas sehingga kurang memberikan kebermaknaan dalam beragama. Oleh karenanya, sebagian penganut agama resmi melirik pada aliran kepercayaan sebagai pengganti agama resmi mereka atau menganut keduanya, sebagai upaya menemukan makna dalam realitas kehidupan.

Beberapa penelitian pun telah dilakukan guna mencari sebab musabab krisis kepercayaan dari pengikut agama resmi tersebut, serta munculnya berbagai ajaran kebatinan. Dan hasil yang didapat pun beragam. Diantaranya seperti faktor akhak sosial, pemecahan persoalan yang cenderung didekati dengan pendekatan hukum semata (halal/haram), atau pun reaksi-reaksi internal terhadap formalisme, dogmatisme atau kebekuan hirarkis yang terpolakan dalam agama-agama tersebut.

Dalam kehidupan umat Islam, aliran kepercayaan atau ajaran kebatinan itu juga ditemui. Disertasi Suciati, mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam, Pascasarjana UMY yang berjudul “Studi Tentang Kohesivitas Muslim Pengikut Pangestu Di Salatiga Dalam Upaya Pengembangan Dakwah”, diungkapkan salah satu ajaran kebatinan yang sudah berkembang sangat pesat. Aliran kebatinan ini bernama Pangestu yang berdiri di Solo sejak tahun 1949 ini telah memiliki 203 cabang yang tersebar di Indonesia. Pengikutnya pun tercatat sebanyak 209.503 orang.

Dalam disertasinya, dosen Ilmu Komunikasi UMY ini juga mengungkapkan bahwa para pengikut Pangestu tersebut memiliki keinginan untuk tetap tinggal dalam organisasi mereka, dan ada upaya untuk menarik orang lain untuk menjadi anggota Pangestu. “Hal ini dikarenakan, para pengikut Pangestu itu merasakan terpenuhinya kebutuhan sosial, ekonomi, dan spiritual dalam organisasi tersebut. Selain itu juga karena pemahaman mereka pada ajaran Islam yang kurang lengkap,” ungkapnya.

Ketercukupan kebutuhan sosial, ekonomi, dan spiritual yang mereka rasakan itu juga disebabkan oleh beberapa hal. Misalkan dalam kebutuhan sosial yang mencakup level hubungan individu dan kelompok. “Pada level individu, mereka melakukan komunikasi yang intensif antar anggota. Mereka juga merasakan bahwa kepemimpinan Pangestu itu diterapkan secara efektif. Sementara untuk aspek spiritualnya, Pangestu membuat anggotanya merasa MAT (Marem, Ayem, Tentrem), merasakan “sih” (kasih sayang) Tuhan, sehat lahir batin, menerima realitas, menindih ego, memantapkan keislaman, dan memberikan ketenangan dalam hidup. Dan semua itu dipengaruhi oleh persepsi yang ditanamkan Pangestu pada pengikutnya,” paparnya.

Karena itulah menurut Suciati, diperlukan upaya dakwah yang tepat bagi mereka. Upaya dakwah tersebut bisa dengan dakwah jama’ah dan dakwah kultural, seperti yang sudah dirancang oleh Muhammadiyah beberapa waktu yang lalu. “Tujuannya tidak lain agar rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan muslim terhadap Islam muncul kembali, sebagaimana terkandung dalam fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan dakwah,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag mengatakan bahwa ada dua perbedaan yang cukup membedakan antara ajaran kebatinan Pangestu dengan ajaran Islam sendiri, yaitu mengeni konsep ketuhanan dan akhirat. Menurut Pangestu, konsep ketuhanan itu ada tiga, yaitu Allah, Rasul, dan Nur Muhammad. “Konsep ketuhanan yang seperti justru terlihat seperti konsep trinitas. Kemudian perbedaan kedua mengenai konsep akhirat. Akhirat menurut mereka tidak berwujud atau berbentuk, karena akhirat (surga dan neraka) itu adalah perasaan. Kalau senang dan bahagia, itu berarti surga, tapi kalau sedih atau melarat itu neraka. Jadi menurut mereka surga dan neraka itu sudah bisa dirasakan saat kita masih hidup di dunia,” paparnya.

Adapun sidang doktor Suciati yang dipimpin oleh Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc dengan sekretaris Dr. M. Nurul Yamin, dan anggota penguji Prof. Dr. Noeng Muhadjir, Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU, Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam, SU, Prof. Dr. Alef Theria Wasim, M.A, dan Prof. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag, menetapkan Suciati sebagai lulusan ke-12 Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam Pascasarjana UMY dengan predikat cumlaude.