Pendirian Pusat Penanganan Kardiovascular dan Kanker Di Yogyakarta:

Mei 27, 2015 oleh : BHP UMY

Sultan Sarankan UMY Beri Pelatihan dan Penyeleksian Ketat Pada Dokter dan Perawat

IMG_0632

Jalinan kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan Universitatsklinikum Munster (UKM) dalam mendirikan pusat penanganan kardiovaskular dan kanker di lingkungan Muhammadiyah sebentar lagi akan terwujud. Setelah sebelumnya melakukan workshop yang berkaitan dengan isu kanker dan jantung, pada November 2015 pusat penanganan kardiovascular  dan kanker ini sudah bisa beroperasi. Keberadaan pusat penanganan ini rencananya untuk membantu menjalankan program-program penanganan kasus-kasus tersebut di Indonesia secara holistik dan komprehensif.

Untuk melancarkan rencana tersebut, UMY kembali melakukan audiensi dan meminta saran kepada Ngarso Dalem pada Senin (26/5) di Kantor Kepatihan Yogyakarta. Dalam audiensi tersebut, Sri Sultan HB X sangat mendukung penuh jalinan kerja sama antara UMY dan UKM Jerman dalam mendirikan pusat penanganan kardiovascular dan kanker di Yogyakarata. “Saya mendukung penuh. Namun, ada beberapa hal yang peru diperhatikan yaitu terkait dengan SDM yang ada. Perlu adanya standarisasi dan kualifikasi dalam menempatkan dokter atau perawat dalam desk tersebut. Untuk itu sangat diperlukan pelatihan dan penyeleksian dalam pemilihannya, “ imbuh Sri Sultan HB X.

Sri Sultan HB X melanjutkan bahwa, perlu adanya antisipasi dalam merekrut calon dokter dan juga perawat ketika dimasukkan dalam desk tersebut. Ini sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang akan terjadi. “Seperti yang terjadi di Medan, ketika itu beberapa calon dokter dan perawat yang direkrut kemudian diberi pelatihan  atau traning dan segala macamnya selama satu tahun. Ketika masa pelatihan akan berakhir akhirnya mereka malah pindah ke Jakarta, nah ini yang perlu kita hindari dan harus hati-hati,“ imbuhnya.

Calon dokter atau perawat yang akan tergabung dalam desk tersebut, lanjut Sultan, juga perlu diberikan pelatihan dan training khusus yang. “Untuk menghindari pengaburan seperti pada kasus di Medan maka perlu adanya pengikatan atau pengontrakan untuk calon dokter dan juga calon perawat. Jadi, ketika masa pelatihan selesai mereka tetap harus mengabdi di sana, sehingga pusat penanganan kardiovascular dan kanker bisa berjalan sebagaimana mestinya,“ tegasnya.

Sultan juga menerangka, bahwa hal yang terpenting sekarang adalah terkait dengan kapasitas keperawatan yang ada di setiap rumah sakit. Bukan hanya dokter saja yang diberikan perhatian khusus tetapi juga perawat perlu mendapatkan perhatian khusus. “Masih banyak perawat di Indonesia yang belum memiliki kemampuan baik dalam memberikan perawatannya, tidak seperti yang ada di luar negeri. Mereka memiliki kemampuan yang lebih baik dari pada perawat yang ada di Indonesia. Untuk itu perlu adanya training khusus yang diberikan kepada calon perawat nantinya,“ terangnya.

Sri Sultan HB X melanjutkan, perlu juga adanya jalinan kerja sama internasional keperawatan dengan Jerman. Hal ini juga guna meningkatkan kemampuan perawat yang ada di Indonesia, sehingga perawat Indonesia akan sebanding dengan mereka. “Selain itu perlu juga adanya karakteristik, misalnya ketika ada pasien yang harus diinfus atau dicek kondisi tubuhnya, seharusnya bukan dokter yang melakukan tetapi perawat. Hal kecil inilah yang perlu diperhatikan,“ paparnya.

Audiensi ini dilakukan juga untuk meminta izin kepada Ngarso Dalem karena pihak UMY akan datang ke Jerman, untuk membicarakan kelanjutan kerja samanya. Sekaligus meminta dukungan penuh dari Ngarso Dalem agar kerja sama ini bisa berjalan dengan semestinya. Selain itu, agar pusat penanganan kardiovascular dan kanker ini bisa segera beroperasi di Yogyakarta. (icha)