Pendidikan Anak Harus Dimulai Sejak Dalam Kandungan

Mei 25, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_6888

Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (HMJ KPI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang bekerjasama dengan Khanza Film Production, menghadirkan aktris sekaligus pendakwah, Pipik Dian Irawati yang dikenal dengan sebutan Umi Pipik, serta seorang tuna netra penghafal al qur’an yang masih berusia 10 tahun bernama Panca Rahmati, dan Agus Riyanto selaku produser eksekutif film Surga Menanti, yang merupakan seorang alumnus Teknik UMY. Dalam penyampaian tausiyah dan bincang film tersebut, Umi Pipik menyampaikan bahwa pendidikan anak harus dimulai sejak dini, yaitu sejak anak masih berada dalam kandungan.

“Supaya anak memiliki moral yang baik, maka ibu harus mempersiapkan pendidikan anak sejak anak belum dilahirkan, yaitu ketika masih berada dalam kandungan. Ini karena anak telah dapat mendengar dan merasakan apa yang dilakukan oleh ibunya. Sehingga ketika telah lahir, anak akan terbiasa dengan apa yang dilakukan ibunya ketika mengandung. Orang tualah pembentuk moral anak,” ungkapnya saat mengisi acara tersebut, pada Rabu (25/5) di Plaza boga UMY.

Dalam penyampaiannya, Umi Pipik menggambarkan bahwa banyak orang tua yang menginginkan anaknya memiliki moral yang baik dan prestasi yang membanggakan, namun sayangnya hanya sedikit saja orangtua mengajarkan moral yang baik untuk diikuti oleh anak-anak mereka. Terlebih saat ini moral anak telah dipengaruhi oleh film-film yang justru tidak ada nilai moralnya. “Film saat ini sangat miris, banyak adegan adegan yg tidak sesuai dilihat oleh anak dan tidak ada pesan moral. Mirisnya, film film itu justru banyak ditonton oleh jutaan orang,” kecamnya.

Oleh karena itu, dengan diadakannya film yang berjudul Surga Menanti tersebut Umi pipik menyampaikan bahwa dalam film tersebut banyak menyimpan pesan moral yang pantas disajikan untuk kondisi moral anak bangsa yang semakin memprihatinkan. “Kami ingin menghadirkan film yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya. Bahkan memberikan pesan kepada orangtua untuk bisa mendidik anak-anaknya dengan baik,” jelasnya.

Umi Pipik menambahkan bahwa dalam film ini menggambarkan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi seorang hafidz qur’an. Orangtua menekankan kepada anaknya bahwa jika berhasil menjadi penghafal al-qur’an, akan diberikan mahkota kehormatan di Akhirat kelak. Motivasi yang diberikan oleh orangtua tersebut, menjadikan anak yang diperankan oleh Panca, ingin meluluskan keinginan orang tuanya. “Suatu saat nanti, jika anak berhasil menghafal, akan memberikan mahkota kepada orangtuanya. Inilah yang menjadi pacuan semangat anak untuk menjadi seorang hafidz qur’an. Meskipun dalam film ini juga menceritakan sosok hafidz cilik yang memiliki keterbatasan penglihatan, namun tetap memiliki keinginan menjadi penghafal al qur’an,” tambahnya.

Dengan diadakan bedah film tersebut, Umi Pipik berharap dapat langsung mensiarkan al qur’an dan memberikan arahan langsung kepada remaja untuk menonton film yang memiliki nilai moral yang baik. “Kami masuk ke sekolah-sekolah dengan tidak langsung mensiarkan al qur’an, dan memberikan arahan tontonan yang memiliki pesan moral yg baik untuk ditonton. Selain itu juga memotivasi dan memberi pacuan kepada siapapun agar tidak malu membawa al qur’an, membaca, bahkan menjadi seorang hafidz. Seharusnya yang malu itu adalah kita memiliki kelengkapan jasmani, namun tidak mampu menjadi penghafal al qur’an,” ungkapnya dengan mencontohkan sosok tuna netra hafidz cilik, Panca.

Diakhir acara Umi Pipik memberikan pesan kepada peserta yang hadir untuk selalu mengingat akan dua hal. Kedua hal tersebut adalah mengenai kebaikan dan keburukan yang dimiliki orang lain maupun diri sendiri. “Ingatlah dua hal agar kita selalu menabur kebaikan dalam ketaatan. Pertama adalah ingatlah kebaikan orang lain, bukan keburukan. Ini agar tidak muncul kebencian yang dapat mengotori hati. Kedua yaitu lupakan kebaikan yang kita miliki, dan selalu mengingat keburukan yang ada dalam diri kita. Ini agar tidak muncul sifat riya yang dapat mengikis iman,” pesannya.

“Setiap kita berjalan dan perjalanan kita adalah musafir. Sedangkan setiap pemberhentian kita dalam sebuah perjalanan,di situlah kesempatan untuk menabur kebaikan sebagai bekal ketika di akhirat. Jadikan tempat pemberhentian sebagai bekal untuk diri kita,” tutup Pipik (hv)