PDSKJI dan FKIK UMY Peringati Hari Kesehatan Jiwa dengan Hidup Bersama Penderita Skizofrenia

Oktober 14, 2014 oleh : BHP UMY

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) dengan menggelar Seminar dan Talks Show bersama orang dengan skizofrenia. Dalam kesempatan tersebut juga dibarengi kegiatan family gathering dan ceramah kesehatan bagi para lansia, keseluruhan kegiatan tersebut akan diselenggakaran di Pendopo DPRD Gunung Kidul, UMY, dan beberapa tempat di Bantul pada tanggal 7,14, dan 18 Oktober mendatang.

Ketua panitia HKJS, dr. Musinggih, SpKJ mengatakan, acara yang mengusung tema Living with Schizophrenia tersebut sengaja digelar untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan banyaknya penderita skizofrenia yang tidak mendapatkan pertolongan dan dukungan sebagaimana mestinya. “Hal tersebut mengakibatkan para penderita tidak mendapatkan pengobatan yang memadai, terabaikan hak-haknya dan terstigma di masyarakat. Sehingga HKJS ini merupakan momentum yang tepat untuk membuka mata hati masyarakat luas bahwa di sekeliling mereka telah banyak penderita yang terabaikan,” ujarnya.

Skizofrenia sendiri merupakan gangguan jiwa yang telah bersifat kronis. Riset kesehatan dasar dari Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan RI, 2014 tahun 2013 menyebutkan jumlah penderita skizofrenia di Indonesia berjumlah 1,72 per seribu penduduk atau sekitar 400 ribu orang. Sebanyak 14,3% atau sekitar 57 ribu orang dengan gangguan jiwa berat pernah dipasung.

Pada kegiatan tersebut, menurut dr. Musinggih, panitia akan memberikan pembekalan kepada para kerabat ODS (sebutan untuk penderita skizofrenia) dalam mendampingi ODS menuju kepulihan. “Dalam kegiatan itu kami akan mendatangkan ODS dan keluarganya yang berasal dari tiga kabupaten di antara lain, Kabupaten Gunung Kidul, Wates, dan Bantul. Kemudian melalui kegiatan tersebut diharapkan ODS dan keluaga ODS mendapatkan dukungan ​sosial dari sebaya, serta memperoleh tambahan informasi dan pengetahuan tentang skizofrenia,” ungkapnya.

dr. Musinggih juga mengatakan, para ODS serta keluarganya tersebut tidak hanya akan diberikan materi atau penjelasan mengenai pendampingan dan penanganan menuju kepulihan. Akan tetapi, mereka juga akan mendapatkan hiburan seperti menonton bersama. “Mereka tidak hanya akan mendapatkan pembekalan dan materi untuk pendampingan ODS menuju kepulihan. Tapi juga nantinya akan ada agenda nonton bareng film yang berjudul “Split Mind”,” tambahnya.

Sementara itu, dr Warih Andan Puspitosari, M.Sc, Sp.KJ, Kepala Bagian Psikiatri FK UMY menjelaskan, penyebab skizofrenia sendiri bersifat multifaktorial yakni berdasar faktor biologi, psikologi dan sosial. Secara biologi diduga karena adanya zat kimia di otak Dopamin yang mengalami hiperaktivitas, sehingga hal ini berpengaruh terhadap kemampuan menilai realita dan tilikan dirinya. “Mereka dapat mengalami halusinasi dengar (mendengar suara yang tidak ada sumbernya dan hanya dia sendiri yang mendengarnya), halusinasi penglihatan (melihat sesuatu yang hanya dia sendiri yang mampu melihatnya) dan halusinasi panca indera lainnya. Selain itu mereka juga dapat mengalami waham yakni keyakinan palsu yang tidak dapat diubah dan ia hidup di dalam wahamnya. Seperti waham curiga, waham aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan logika,” pungkasnya. ​