MGPS 5 Resmi Berakhir

Desember 6, 2016 oleh : BHP UMY

umy-peserta-mgps-5

Rangkaian kegiatan selama 10 hari Mahathir Global Peace School (MGPS) 5 resmi ditutup. Hal ini ditandai dengan pembagian sertifikat kepada peserta dan closing dinner di lt.4 Gedung Pascasarjana UMY, Senin (5/12). Kepala Sekolah MGPS, Hilman Latief, Ph.D dalam wrap up meeting mengapresiasi seluruh peserta MGPS. “Saya rasa ini menjadi pengalaman yang berharga bagi kita semua. MGPS kali ini menjadi MGPS terakhir, peserta yang hadir lebih beragam dari berbagai macam latar belakang, dan kita saling mengenal satu sama lain dimana ini menjadi hal yang baik, bukti bahwa kita cukup solid,”tuturnya.

Hilman berharap para peserta bisa berperan lebih dalam proses perdamaian. “Ekspetasi kepada alumni MGPS yaitu untuk bisa berbuat sesuatu kepada negaranya. Berbagai negara memiliki tantangan berbeda dalam perdamaian. Saya harap kita bisa membuat small project community dan mempelajarinya lewat hal tersebut. Untuk mengidentifikasi masalah, dan untuk menyebarkan world peace lebih jauh,”paparnya.

MGPS 5 ini merupakan putaran terakhir setelah 3 tahun dilaksanakan. Namun agar misi global peace yang diangkat tidak terputus, tidak menutup kemungkinan akan ada putaran kedua. Menanggapi hal ini Hilman menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk mengumpulkan peserta MGPS dari edisi 1-5 dalam forum reuni. “Saya kira kita bisa bereuni dan bertemu di sebuah forum yang mengumpulkan seluruh alumni MGPS dari MGPS 1 hingga 5,”ujarnya.

Sementara itu, Prof. dr. Gerry van Klinken dalam closing remarknya membahas tema Musik sebagai faktor penyebar perdamaian. Gerry yang tidak bisa hadir di tengah-tengah peserta, memaparkan materinya lewat teleconference video call di hadapan peserta. “Perdamaian selalu berfokus pada politik. Tapi yang tidak kita ketahui, Musik mempunyai pesan tersendiri bagi perdamaian. Musik sebagai pengingat bahwa sebenarnya perdamaian datang dari hati kita masing-masing. Keunikan musik yaitu dia bisa berbicara lebih banyak, berbagi emosi termasuk perdamaian,”jelasnya.

Menurut Gerry, sudah saatnya kita menghentikan perang. Perang menjadi momok yang traumatik bagi yang menjalankannya. “Seperti seorang composer music Inggris, Ralph Vaughan William yang kehilangan intuisi musiknya setelah bergabung dengan tentara Inggris dalam Perang Dunia I. Perang meninggalkan jejak emosional padanya, yang kehilangan banyak kawan dan teman-teman, termasuk komposer muda sahabatnya George Butterworth. Kebisingan terus-menerus dari senjata dan bom merusak pendengarannya, dan menyebabkan ketulian bertahun-tahun. Butuh waktu lama untuk kembali menulis musik, dan setelah itu dia mengubah pandangannya untuk menyebarkan musik untuk perdamaian. Ketika Perang dunia 2 pecah, dia sibuk menulis musik dan menyerukan perdamaian,”tambahnya. (bagas)