Mahasiswa UMY Presentasikan Keberagaman Dialek Inggris-Nusantara di Filipina

November 4, 2013 oleh : BHP UMY

DSC06324Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBI UMY) mempresentasikan masalah dialek bahasa Inggris dalam 11th Asia TELF International Conference Filipina, tanggal 26- 29 Oktober 2013 di Filipina. Dalam presentasi tersebut, 6 mahasiswa PBI UMY mengemukakan penelitian mengenai dialek bahasa dan budaya suku Indonesia serta kebiasaan dalam memahami bahasa Inggris.

“Presentasi tersebut berdasarkan penelitian kami, responden yang kami uji dari berbagai suku di Indonesia mempunyai tingkat pemahaman dan penguasaan tersendiri dalam pemakaian bahasa Inggris. Seperti sunda yang susah menyebut huruf F, ternyata itu sangat menarik bagi orang luar,” terang mahasiswa PBI UMY, Dani Ratrianasari saat diwawancarai, Jum’at (1/11).

Dani mengatakan, persoalan dialek tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga berbagai negara Asia dan bahkan dunia. Menarik dikaji karena adanya interaksi antar negara dunia semakin meluas, sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris sehingga perlu diamati berdasarkan latar belakang suku ketika pengucapan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. “Kalau kita tidak tahu dialek orang Melayu atau Jawa ketika menggunakan bahasa Inggris, maka bisa salah paham nantinya. Begitu juga dengan suku lain diberbagai negara dunia harus dipahami, supaya lancar dalam komunikasi,” jelas mahasiswa UMY ini.

Sedangkan Septi Riyani dalam presentasi tersebut mengemukakan perlunya pendidikan bahsa Inggris untuk seniman dan penggerak budaya. Menurut penelitiannya, penggerak budaya yang mengirimkan duta ke luar negeri masih banyak yang belum lancar berbahasa Inggris. Sehingga perlu diadakan pelatihan khusus untuk delegasi budaya tersebut. “Setiap penggerak budaya biasanya mengirim delegasi keluar negeri, yang menjadi masalahnya itu delegasi tersebut kurang terlatih menggunakan bahasa Inggris. Beda dengan pertukaran pelajar dari kampus, mereka lebih menguasai bahasa Inggris,” jelas mahasiswa PBI UMY yang presentasi konferensi ini.

Selain itu, Mei Supitasari mempresentasikan manfaat nonton film berbahasa Inggris dengan subtitle bahasa Inggris. Orang yang menonton film bahasa Inggris dengan terjemahan bahasa Indonesia, biasanya sedikit mendapat kosakata. Karena lebih berfokus pada bacaan dan kurang mendengarkan ucapan di film tersebut. “Bahasa itu pembiasaan dan pemahaman, jika fokusnya membaca terjemahan, pasti susah memahami ucapan di film tersebut. Yang terpenting itu memahami ucapan dengan aksi aktor di filmnya,” terang mahasiswa UMY ini.

Enam mahasiswa PBI UMY yang presentasi dalam 11th Asia TELF International Conference Filipina terdiri dari Septi Riyana, Rahmat Saleh, Mei Supitasari, Irfan Dwi Yulianto, Denny Irdantie Tikasari dan Dani Ratrianasari. (syah)