Mahasiswa Singapore Polytehnic Usung Ide Ciptakan Mesin Penghalus Tempurung Kelapa dengan Vacum Cleaner

September 27, 2013 oleh : BHP UMY

DSC07206Selama ini para pengrajin tempurung kelapa masih sering terganggu dengan debu-debu yang dihasilkan dari proses penghalusan tempurung kelapa. Debu-debu tempurung kelapa tersebut masih sering berhamburan dan berterbangan jika terkena angin. Sehingga upaya yang bisa dilakukan oleh mereka hanya dengan menyapunya. Padahal debu-debu itu masih bisa diproduksi untuk kerajinan lainnya. Karena itulah muncul ide untuk membuat mesin penghalus tempurung kelapa yang bisa langsung menampung debu-debu tersebut.

Nelson, salah seorang peserta KKN Internasional dari Singapore Polytechnic, mengungkapkan hal tersebut saat mempresentasikan ide pembuatan mesin penghalus tempurung kelapa, di Lobi Lantai Dasar gedung AR. Fakhruddin B Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (26/9).

Menurutnya, ide pembuatan mesin itu muncul karena melihat debu-debu yang berterbangan saat para pengrajin tempurung kelapa tersebut menghaluskan tempurung kelapa untuk dijadikan bahan kerajinan. Padahal debu-debu itu bisa mengganggu kesehatan. “Debu-debu dari tempurung kelapa itu kan bisa mengganggu kesehatan mereka, tapi karena mereka belum tahu cara mengendalikan debu tersebut, maka kami memiliki ide untuk membuat mesin penghalus tempurung kelapa yang sekaligus bisa menampung debu-debunya,” ujarnya.

Nelson juga mengatakan, bahwa mesin penghalus tempurung kelapa itu menggunakan vacum cleaner untuk menyedot debu-debu dari tempurung kelapa. “Selain ada mesin untuk menghaluskan tempurung kelapanya, kami juga menempatkan mesin lain pada bagian akhirnya. Kami akan menggunakan vacum cleaner agar bisa menyedot debu-debu itu saat proses penghalusan tempurung kelapa berjalan. Jadi, tidak ada debu-debu yang berterbangan lagi. Karena semua debu-debunya akan tersimpan pada bagian bawah mesin penghalusnya, dan di dalam vacum cleanernya,” paparnya.

Senada, Maulana Arif, peserta KKN Internasional dari Agroteknologi UMY juga mengatakan bahwa masalah utama yang menjadi kendala para pengrajin tempurung kelapa di desa Pajangan Bantul tersebut adalah debu-debu yang bisa merusak kesehatan. Karena saat proses penghalusan itu berlangsung, debu-debu berterbangan dan mengharuskan pengrajinnya menggunakan masker. “Kami mencoba menawarkan mesin ini kepada pengrajin di sana. Selain agar kesehatan mereka lebih terjaga, para pengrajin ini juga tidak bekerja dua kali dengan menyapu debu-debu itu. Karena pada mesin yang kami buat ini, sudah dilengkapi dengan plastik yang berada di bawah mesin penghalus tempurung kelapanya. Jadi debu-debunya bisa langsung terkumpul di sana dan digunakan lagi untuk kerajinan lainnya,” jelasnya.

Namun, lanjut Maulana, mesin yang saat ini sedang dipresentasikan baru prototypenya saja. “Kami baru membuat prototypenya saja, masih menunggu kebijakan dari warga atau pengrajin setempat. Kalau mereka setuju dan berminat untuk menggunakan mesin ini, nanti dari Singapore Polytechnic (SP) akan segera merealisasikan dan memproduksi mesin ini,” lanjutnya.

Sementara itu, Nur Taufiq, pemilik usaha dan sanggar kerajinan tempurung “Chumplung Adji” di desa Santan, Guwosari, Pajangan, Bantul yang juga menjadi tempat para mahasiswa program KKN Internasional ini berlangsung, menyetujui maksud baik para mahasiswa KKN Internasional tersebut. Karena menurutnya, hal itulah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh dirinya dan pengrajin tempurung kelapa lainnya. “Ini solusi yang kami inginkan. Karena selama ini debu-debu itu berhamburan, dan itu mengganggu kesehatan serta membuat polusi bagi lingkungan kami. Harapannya, kalau mesin itu sudah terealisasi akan mempermudah kerjasama kami dengan pabrik obat nyamuk dan dupa. Karena debu-debu dari tempurung kelapa itu bisa digunakan untuk obat nyamuk, dupa, juga briket, dengan begitu kan juga akan menjadi nilai tambah dan jual lagi,” paparnya.

Taufiq yang telah menjadi pengusaha dan pengrajin tempurung kelapa selama 20 tahun ini, dan telah berhasil mengekspor hasil kerajinannya ke berbagai negara di Eropa, Perancis, Timur Tengah dan Australia ini juga menambahkan bahwa mesin penghalus tempurung kelapa dari mahasiswa SP itu akan jadi pada bulan Maret 2014. “Kami sudah menandatangani kerjasama dengan Singapore untuk mendatangkan mesin tersebut ke desa kami pada bulan Maret mendatang. Harapannya juga bisa diproduksi secara massal, agar bisa digunakan juga untuk teman-teman pengrajin tempurung kelapa lainnya. Karena dengan begitu kan kami bisa mensejahterakan masyarakat kami, dan bisa menjadikan desa kami sebagai desa wisata kerajinan tempurung kelapa, sesuai dengan namanya, desa Santan,” pungkas pengrajin tempurung kelapa yang juga rutin memasarkan produknya ke perusahaan kecantikan, Marta Tilaar Indonesia, setiap 3 bulan sekali ini.  (addhuhry)