Lombok Abang, Perpaduan Kearifan Lokal dengan Kemajuan Zaman

Juli 11, 2018 oleh : BHP UMY

Penggunaan maskot pada suatu event menjadi faktor penting untuk menyampaikan tema dan makna dari kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula dengan Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 yang menggunakan maskot sebagai sarana penyampaian pesan kepada peserta lomba yang berpartisipasi dan seluruh pegiat robot yang ada di Indonesia. Pada gelaran KRI 2018 ini maskot yang digunakan bernama “Lombok Abang” yang memadukan antara kemajuan teknologi dan kearifan lokal “Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Disampaikan oleh Sri Atmaja P. Rosyidi, ST., MSc.Eng., Ph.D., PE selaku ketua panitia pelaksana KRI 2018 saat ditemui pada Selasa (10/7) di Gedung Sprotorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bahwa penggunaan maskot berbentuk seperti salah satu pasukan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama “Wirabraja”. Maskot Lombok Abang sejatinya sudah digunakan pada KRI 2015 namun kembali dipakai pada tahun ini.

“Panitia kembali memakai Lombok Abang maskot yang kita pakai untuk KRI 2018 dari pasukan Keraton Jogja yang bernama Wirabraja,” ujarnya.

Kemudian Sri Atmaja menambahkan bahwa pasukan Wirabraja memiliki sifat – sifat yang sangat menginspirasi bagi para pegiat robot yang akan bertarung pada gelaran KRI 2018 yaitu sifat kesatria yang memiliki daya juang tinggi, sportivitas, dan pantang menyerah. Dari sifat – sifat itu diharapkan juga dapat diterapkan pada kompetisi robot kali ini.

“Pasukan Wirabraja memiliki banyak sifat positif yang harusnya bisa tersampaikan pada seluruh peserta lomba,” tambahnya.

Lombok Abang merupakan perbaduan antara kemajuan teknologi dan kearifan lokal yang dimaknai dalam bentuk robot android berwujud pasukan Jawa. Semua itu menjadi wujud bahwa kebudayaan dan kemajuan teknologi selalu bisa dipadukan dan berjalan beriringan. (ak)