Literasi Media Menjadi Solusi untuk Masyarakat Cerdas dalam Mengonsumsi Media

September 12, 2015 oleh : BHP UMY

IMG-20150912-WA0011

Kekuatan media massa dalam memberikan informasi kepada khalayak atau masyarakat luas menjadikan media massa menjadi kebutuhan bagi sebagian masyarakat. Korporasi media industri memiliki posisi yang penting ketika tumbuh bersama masyarakat untuk menyebarkan gagasan. Namun, untuk dapat menerima pesan dari sebuah pemberitaan media, masyarakat dirasa perlu untuk memilah-milah pemberitaan, atau biasa disebut dengan literasi media. Hal tersebut diungkapkan oleh Firly Annisa, S.IP, MA, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, selaku pembicara dalam acara Media and Literature Fair yang diselenggarakan oleh SEA (Student English Activity) pada Jumat (12/9) bertempat di gedung Jogja National Museum (JNM). “Dirasa perlu adanya literasi media kepada masyarakat dikarenakan terkadang media terlalu membawa realitas yang berbeda dengan realitas yang terjadi di publik, sehingga publik merasa di bodohi dengan situasi tersebut,” ungkapnya.

Selain melalui literasi media, publik juga diharap memiliki kemampuan untuk dapat mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan kembali pesan yang disiarkan oleh media. “Publik diharap untuk tidak menelan mentah-mentah secara langsung ketika menerima pesan dari media, butuh penyaringan dan pemilahan sebelum pemberitaan tersebut di konsumsi publik, hal itu penting dikarenakan agar publik memiliki pemikiran yang kritis dalam memahami agenda media untuk publik yang luas,” tambahnya. Pemikiran kritis diperlukan oleh publik yang berfungsi agar publik akan lebih dewasa lagi dalam mendapatkan informasi atau berita, agar tidak terjadi perselisihan persepsi antar masyarakat dalam menerima pemberitaan media.

Pemanfaatan media massa pada dasarnya tidak selamanya berdampak negatif, tergantung bagaimana publik menggunakan dan memanfaatkan media tersebut. “Fungsi dari media, khususnya media sosial dapat menjadi sebuah wadah untuk masyarakat dalam melalukan transaksi dan bahkan menjadi sebuah media untuk memulai usaha dalam berbagai bidang dengan memanfaatkan trendnya media sosial yang banyak digunakan masyarakat saat ini,” ucap Firly.

Sementara itu, Fathor Rahman MD, S.SoS, jurnalis sebuah media cetak, mengungkapkan, dampak dari pemberitaan yang disiarkan oleh media massa kepada publik pada dasarnya akan menjadi negatif atau positif tergantung dari bagaimana publik menerima pesan tersebut dan memaknainya. Selain itu, dengan adanya media massa, khususnya media cetak dapat meningkatkan daya membaca publik, khususnya mahasiswa agar daya kritis dan analisisnya semakin berkembang. “Butuh adanya gerakan asosiasi yang didirikan oleh publik sendiri untuk memacu daya tarik membaca berita media massa dengan cerdas, daya kritis dan kemampuan analisis diperlukan untuk memperbaiki media massa yang dirasa melenceng dari kaidah kejurnalistikan dan membawa dampak yang buruk bagi publik, dan gerakan untuk memperbaiki media massa tersebut dapat diawali dengan terbentuknya asosiasi tersebut,” ucapnya.

Raditia Candra, selaku ketua divisi Media and Literature mengungkapkan, terselenggaranya acara Media and Literature Fair tersebut merupakan program dari divisi yang diketuainya, yang berfungsi untuk mengajak mahasiswa, khususnya mahasiswa UMY untuk berfikir kritis dan menganalisa lebih tajam sebuah isu yang dibuat oleh media massa, baik melalui pemberitaan maupun literatur. “Acara MLT Fair ini berfungsi untuk mengajak mahasiswa untuk mencintai media massa dan literature, selain talkshow dan diskusi, acara MLT Fair ini juga turut dimeriahkan dengan adanya pameran buku, dan beragam acara hiburan,” ucapnya.