Lingkungan Pengaruhi Perilaku Terorisme

Mei 17, 2017 oleh : BHP UMY

Terorisme selalu muncul di beberapa negara dengan bentuk yang berbeda-beda. Para pelaku terorisme seringkali merupakan kelompok ataupun juga individu. Seseorang dapat menjadi teroris atau perilaku terorisme sendiri biasanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Bilver Singh, professor dari National University of Singapore (NUS) yang mengisi kuliah umum Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di gedung AR Fakhruddin B lantai 5 pada Senin (15/05). Dalam kuliah umum tersebut, Bilver menjelaskan tentang bagaimana munculnya terorisme, bagaimana peran internet terhadap jaringan terorisme, dan bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku terorisme pada seseorang.

“Setiap bayi yang terlahir tidaklah terlahir untuk menjadi teroris. Ada kondisi tertentu yang menjadikan mereka bisa menjadi teroris. Faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi teroris antara lain faktor politik, ideologi, kekuasaan, cara mereka menarasikan Al-Qur’an, dan juga faktor kegagalan negara,” jelas Bilver.

Bilver memberikan contoh Santoso, mantan pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang memiliki sifat pembunuh berdasarkan dendam. “Saat dulu konflik di Poso, Santoso melihat bagaimana bapak dan ibunya dibunuh. Setelah itu ia menjadi dendam dan dengan mudah membunuh banyak orang. Bahkan hingga polisi yang saat itu ia lihat, ia lalu membunuhnya,” jelas Bilver.

Dalam kasus terorisme, Bilver menambahkan bahwa seorang teroris akan selalu membutuhkan pengikut. Dengan berkembangnya media sosial saat ini, para teroris memanfaatkannya dalam berbagai hal. “Selain dari faktor lingkungan dan latar belakang, berubahnya perilaku seseorang menjadi seorang teroris juga disebabkan karena media sosial. Saat ini media sosial dapat mengubah cara berfikir seseorang, sehingga jaringan terorisme memanfaatkannya untuk memperoleh data, mengubah cara pandang orang, kemudian juga digunakan untuk merekrut anggota mereka,” ujar Bilver.

Dalam melawan teroris dan perilaku terorisme, Bilver menyebutkan ada 3 pihak yang dapat memberikan peran yang berbeda. “Ketiganya ialah dalam skala nasional, regional, dan internasional. Di tingkat nasional, pemerintah harus mampu menjalankan pemerintahan yang baik, di tingkat regional dan internasional, pihak regional dan internasional harus mampu berkolaborasi secara global dalam menangani teroris ini,” jelas Bilver.

Selain itu, Bilver manambahkan, pendidikan dari seorang ibu juga berpengaruh pada hal terorisme. “Kasusnya ada sekitar 80 persen para teroris yang gagal dan tidak jadi meledakkan bom karena ibu mereka. Saat mereka ditangkap dan dipenjara, mereka ditanyai dan yang menyebabkan mereka tidak jadi melakukan terror adalah karena ibu mereka yang mengingatkan mereka. Sehingga peran ibu juga sangat penting dalam membentuk karakter anak,” tutup Bilver. (de)

Share thisShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0