Kronologi Peristiwa Demo di UMY

Desember 14, 2011 oleh : BHP UMY

Selama tiga hari belakangan ini (Senin-Rabu, 12-14 Desember 2011) kampus UMY menjadi ajang demonstrasi oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam FKMK (Forum Komunikasi Masyarakat Kampus). Dalam aksi demonstrasi tersebut mereka mengajukan beberapa tuntutan kepada pihak rektorat, salah satunya adalah pencabutan skorsing yang dijatuhkan oleh pihak universitas kepada 2 orang mahasiswa UMY. 2 mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa yang diskors karena terbukti melakukan kekerasan terhadap pegawai dan mahasiswa lain pada saat Pemilu Raya mahasiswa UMY bulan Mei 2011 silam.

Aksi demonstrasi yang berlangsung pada hari Senin 12 Desember 2011 berlangsung dengan relatif tertib. Kelompok mahasiswa memulai aksi penggalangan dukungannya dari lobby Fakultas Hukum sekitar pukul 09.30 wib, kemudian melakukan aksi yang sama di lobby Fakultas Isipol, dan akhirnya melakukan orasi di depan pintu Rektorat UMY.

Selama orasi, kelompok ini menuntut agar pihak universitas segera mencabut surat skorsing dan peringatan keras yang diberikan kepada  beberapa mahasiswa terkait kasus kekerasan yang mereka lakukan pada saat pemilu raya (pemira) mahasiswa beberapa waktu lalu. Pada kesempatan tersebut Wakil Rektor (WR) III, Sri Atmaja P. Rosidi, PhD, menemui para mahasiswa dan meminta agar ada beberapa perwakilan mahasiswa masuk ke dalam rektorat untuk menyampaikan tuntutannya. Setelah dialog di rektorat, WR I, Dr. Bambang Cipto, MA, dan WR II, Dr. Suryo Pratolo,  juga nampak turun dan bergabung dengan WR III dan kembali berdialog dengan para demonstran. Aksi pada hari pertama itu tidak sampai menimbulkan benturan fisik dan berakhir dengan damai.

Pada hari kedua, rupanya para mahasiswa belum puas dengan apa yang diputuskan oleh pihak rektorat, sehingga kembali menyelenggarakan aksi unjuk rasa. Pada hari kedua ini, mahasiswa berhasil menerobos barikade satuan pengamanan UMY, dan kemudian menduduki lantai dasar rektorat. Tidak cukup melakukan itu, mereka kemudian menggembok pintu dari dalam gedung, dan tidak mengizinkan pihak di luar kelompok mereka untuk masuk. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, satuan pengamanan UMY dibantu beberapa anggota kepolisian kemudian memasuki gedung dari jembatan atas dan kemudian dengan didukung anggota satuan pengamanan yang ada di dalam, mereka mencegah agar demonstran tidak naik ke ruang rektorat. Di lantai dasar ini para demonstran kembali berorasi dan baru mau keluar pada sekitar pukul 16.30 WIB.

Di hari ketiga, universitas mengambil keputusan untuk melokalisir aksi demonstrasi karena banyaknya acara yang diselenggarakan di rektorat, baik di Gd. A.R. Fahruddin A dan Gd. A.R. Fahruddin B. Bahkan pada hari itu UMY menerima kunjungan Duta Besar Uni Eropa. Tetapi karena dibarikade, sementara para demonstran tetap ngotot untuk melakukan aksi unjuk rasa di rektorat, akhirnya sempat terjadi benturan antara satuan pengaman dan karyawan UMY yang bersatu padu mencegah agar demonstrasi tidak meluas ke rektorat.

Dalam benturan tersebut, beberapa mahasiswa demonstran terpaksa diamankan oleh pihak keamanan kampus karena diduga melakukan tindakan anarkis. Mereka kemudian dibawa ke ruang E.2.4 untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Pihak rektorat kemudian membawa para mahasiswa yang diamankan untuk bertemu dengan rektor di rektorat. Dalam kesempatan tersebut Rektor tetap menyatakan bahwa skorsing tidak akan dicabut. Mendengar hal tersebut para mahasiswa kemudian pamit dan keluar dari ruangan.

Dalam kesempatan bertemu dengan wartawan, WR III menyatakan bahwa aksi yang dilaksanakan oleh beberapa mahasiswa tersebut adalah aksi ilegal, karena tidak disalurkan oleh lembaga mahasiswa yang diakui oleh universitas. WR III kembali menjelaskan kepada wartawan bahwa pihak universitas tetap pada keputusan semula untuk tidak mencabut skorsing kepada mahasiswa.

Berdasarkan penuturan beberapa sumber, aksi tersebut tergolong sudah kelewatan karena sudah merusak dan memecahkan beberapa fasilitas dan aset kampus, seperti papan-papan pengumuman di Fisipol. Mereka membakar ban di depan rektorat dan menurunkan bendera merah putih hingga setengah tiang. Selama “menduduki” di gedung rektorat, mereka juga menyobek-nyobek brosur penerimaan mahasiswa baru. Selain itu, mereka juga telah menggembok beberapa akses menuju ruang kuliah di FISIPOL, sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar.