Kepentingan Ekonomi Turut Pengaruhi Penyebaran Aliran Sesat di Indonesia

Februari 19, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_2578

Penyebaran aliran sesat di Indonesia saat ini cukup signifikan dan masif, hal tersebut terlihat pada jumlah aliran sesat yang ada di Indonesia hingga saat ini telah mencapai 600 aliran, dan 300 diantaranya masih aktif hingga saat ini. Faktor penyebaran aliran tersebut diantaranya karena adanya kepentingan ekonomi. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas, selaku dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam acara Yudisium Periode II Program Pascasarjana UMY pada Jumat (19/2) bertempat di Ruang Seminar Gedung Pascasarjana UMY lantai 4.

Kepentingan ekonomi dalam penyebaran aliran sesat tersebut dimanfaatkan oleh pendiri dan penyebar aliran sesat tersebut untuk meraup keuntungan dari pengikutnya. “Penyebar dan pendiri aliran sesat tersebut memanfaatkan pengikutnya untuk memberikan kontribusi bagi aliran yang didirikannya dalam bentuk uang maupun barang, seperti yang dilakukan oleh salah satu pendiri aliran sesat yang mengungkapkan dapat meraup uang hingga belasan juta setiap bulannya, untuk kepentingan dirinya sendiri yang di dapatkan dari iuran pengikutnya,”ungkapnya.

Yunahar menambahkan, selain kepentingan ekonomi lemahnya pembinaan agama bagi pengikut dan pendiri aliran sesat turut mempengaruhi penyebaran aliran sesat di Indonesia. “Lemahnya pembinaan agama bagi pengikut dan pendiri aliran sesat yang saat ini berada di tahanan penjara turut mempengaruhi penyebaran aliran tersebut. Sebaiknya meskipun berada dalam tahanan penjara, mereka harus tetap mendapatkan pembekalan agama, agar selama berada di tahanan dan setelah keluar dari tahanan penjara mereka tidak melakukan kegiatan menyimpang,”tambahnya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sebuah organisasi keagamaan, atau organisasi Islam harus mengikuti organisasi yang memiliki kejelasan, yaitu memiliki pemandangan yang dapat mencerahkan dalam pemahaman ilmu agama, dan bukan membawa kesesatan. “Penyebaran aliran sesat biasanya dilakukan terselubung dan tersembunyi, bagi masyarakat yang berkeinginan mengikuti sebuah organisasi Islam, harus mengikuti organisasi yang dapat membantu untu mencerahkan dalam memberikan pemahaman ilmu agama, bukan malah menyesatkan,”tambah Yunahar.

Bahkan Prof Yunahar Ilyas yang juga Ketua PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai ormas Islam selama ini lebih mementingkan cara-cara untuk membentengi masyarakat agar tidak terjerumus ke aliran sesat, dibandingkan mengurus maraknya kemunculan aliran sesat tersebut. Karena akan lebih efektif jika masyarakat bisa memahami mana aliran yang sesat dan yang tidak, sehingga seberapa banyak aliran sesat muncul maka mereka bisa melindungi dirinya sendiri,

Terlepas dari penyampaian materi yang disampaikan oleh Prof. Yunahar, diungkapkan oleh Dr. Achmad Nurmandi, selaku direktur Pascasarjana UMY dalam sambutannya menyampaikan, pada periode Yudisium ke II ini Pascasarjana UMY berhasil meluluskan 111 mahasiswa, dari program Magister dan juga program doktoral.

Nurmandi menambahkan, bagi lulusan Pascasarjana UMY kedepannya diwajibkan untuk melakukan publikasi jurnal, tesis, dan juga hasil disertasi yang telah diteliti. “Kedepannya kami mewajibkan bagi lulusan Pascasarjana UMY untuk melakukan publikasi jurnal internasional, yaitu dengan mempublikasikan hasil tesis dan juga disertasinya sesuai dengan standar publikasi internasional, hal ini dilakukan guna mendukung internasionalisasi kampus, dan program tersebut akan mulai diberlakukan pada lulusan di periode berikutnya,” tambah Nurmandi.

Diharapkan bagi lulusan Pascasarjana UMY untuk dapat memberikan warna tersendiri bagi organisasi maupun instansi di dunia kerjanya kedepan, dengan melakukan inovasi-inovasi terbarukan. “Saya berharap bagi lulusan Pascasarjana UMY, untuk tidak hanya bekerja bagi kepentingan dirinya sendiri, namun juga bekerja dan bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat,”tutup Nurmandi. (Adam)