Kabar dari Negeri Tirai Bambu #1

 

Kabar dari Negeri Tirai Bambu

Assalammualaikum..

Nimen Hao!

Kalimat yang pertama terpikir saat membuat newsletter ini hari ini adalah “I am so grateful with everything I have in my life and especially because my life has been fulfilled of both happiness and difficulties to be learned”. Alhamdulillahirrabbil’alamin. Sudah hampir dua bulan saya menjalani “hidup baru” di negeri tirai bambu. Ya, memang benar pepatah ‘Tuntutlah ilmu sampai negeri China’. Memahami pepatah tersebut tentunya bukan untuk ditelan mentah-mentah, menyiapkan koper dan pergi ke China lalu tidak menghasilkan apa-apa. Justru inilah motivasi yang menurut saya sangat suitable bagi mahasiswa yang berkemauan besar untuk terus belajar. Namun tidak saya pungkiri juga bahwa China memang ‘tempatnya belajar’. SIAS International University yang mana merupakan tempat saya saat ini belajar bahasa Mandarin terletak di sebuah kota kecil bernama Xinzheng, yaitu berada di provinsi Henan, tepat di tengah-tengah negara China. Xinzheng memang tidak semegah Beijing atau semewah Shanghai. Akan tetapi, kalau ingin bertemu dengan orang-orang yang ramah dan mempunyai willingness untuk saling membantu, serta lingkungan yang masih lumayan segar dengan polusi udara yang bisa dibilang rendah, disinilah tempatnya.

Xinzheng memang kota kecil. Namun kota ini memang sengaja dikembangkan agar warganya (juga lingkungan di sekitar SIAS) bisa memajukan bisnisnya. Simply, walaupun kami disini kerap mengalami kesulitan menemukan barang-barang yang kami butuhkan (contohnya seperti saya yang mencari susu bubuk coklat tapi tentu saja tidak ketemu :p ), pertokoan kecil di dalam dan sekitar kampus sudah sangat bisa memanjakan mata, hati, dan telinga. Dari mulai ember hingga kamus digital Chinese-English yang canggih (walaupun merknya seperti dari negeri antah berantah) bisa kami dapatkan dengan mudah disini dengan harga terjangkau. Awalnya saya terkejut dengan cara warga setempat berbicara dengan nada tinggi. Saya seperti dibentak! Tetapi semakin kesini saya semakin menyadari betapa helpful-nya mereka. Memang sangat menyebalkan ketika kita tahu mereka hendak membantu namun mereka amat sangat menyadari bahwa kami belum bisa bahasa China. Tapi tenang, mahasiswa SIAS (menurut saya) adalah manusia-manusia super yang ingin membantu orang lain dengan senang hati. Awalnya saya memang hanya berharap pada teman-teman yang bisa berbahasa Inggris. Merekalah yang sering membantu saya memesan makanan (dan memastikannya halal untuk saya). Tetapi seiring berjalannya waktu, perlahan semakin banyak teman-teman baru yang sungguh membuat saya amat bersyukur. Saya punya tips penting bagi teman-teman di Indonesia yang sedang belajar bahasa China. Sejago-jagonya kita di kelas Mandarin atau seserius mungkin kita memperhatikan dosen, menurut saya “praktek” tetap cara nomer satu untuk menguasai bahas yang cukup complicated ini. Jadi kalau boleh saran ya, bahasa mandarin harus sering-sering dipraktekkan agar cepat fasih, bagaimanapun caranya (Saya yakin anak UMY pasti kreatif dan banyak akal!). Sekarang saya justru bersyukur mempunyai banyak teman yang bahasa Inggrisnya masih dalam proses improving. Dengan begitu saya semakin terpacu untuk belajar dan belajar. Salah-salah disana-sini bukan masalah, teman-teman inilah yang menjadi guru privat saya. Mereka sangat open dan encouraging. Walaupun kita hanya mengucapkan Xiexie ni! atau Wo de mingzi Rizkya, mereka akan memuji bahasa China kita “Your Chinese is very good! I think it has great improvement!!”. Weittt, ini bukan gratifikasi atau hanya gombalan belaka. Mereka sangat appreciate dengan usaha kita untuk mempelajari bahasa mereka dan buat saya itu adalah vitamin yang mahal bin mujarab untuk proses belajar saya disini. Dan mereka tidak akan mengharap imbalan apapun sebagai balasan karena mereka sudah sangat membantu proses belajar saya. Percaya atau tidak, satu atau dua jam mengobrol tentang Indonesia dan hal-hal lain (yang bagi mereka baru dan menarik) sangat bisa membayar banyaknya waktu dan tenaga yang mereka habiskan bersama kita, terutama untuk menolong dan menjadi penerjemah pribadi. Dan di setiap pembicaraan, satu topik akan dengan mudah beranak-pinak sampai ke banyak topic yang berbeda. Disitulah seninya! Seni dimana kita akan menyadari bahwa berbeda memang sangat indah, dengan berbeda itulah hidup menjadi semakin berwarna. (:

Beralih ke masalah China yang kaya akan warisan budaya bercita rasa sejarah yang panjang dan pemandangan alam yang tidak kalah terkenal, saya sudah mengunjungi beberapa tempat yang menarik, walaupun masih belum jauh dari Xinzheng. Huan Cui Yu adalah gunung pertama yang saya daki di Zhengzhou sejauh ini. Sangat-sangat melelahkan! Tapi alhamdulillah, we had a good time to spend with good friends. Hari yang panas disulap menjadi sangat menyenangkan! Pekan depannya saya bertolak ke Kaifeng, sebuah kota tua yang terkenal. Walaupun rombongan kami hanya berkunjung ke Millenium City Park di Kaifeng, aroma kekunoan China sangat kental terasa disini. Kehidupan di masa Dinasti Song bagian utara disajikan dengan sangat riil dan detail di taman kota ini. Mulai dari social living, pasar rakyat, hingga tata kota Kaifeng tergambar sangat jelas disana. Selanjutnya, kota Luoyang menghadirkan sensasi berbeda bagi saya. Di Longmen Grottoes, kami menikmati indahnya patung-patung Budha dari ukuran kecil sampai besar. Pemandangan disana begitu alami dan refreshing. Seraya menikmati keindahan patung-patung Budha di kanan kiri, angin yang bertiup diatas danau besar di tengah-tengah Longmen Grottoes turut memberi suasana alam yang indah dan perjalanan kami pun semakin menyenangkan. Mudan Hua atau Peony yang merupakan bunga terkenal di Luoyang menarik perhatian kami di hari kedua disana. Bulan April memang waktu yang tepat untuk mengunjungi taman nasional di Luoyang karena inilah bulannya si peony bermekaran.

Sabtu depannya saya dengan teman-teman satu kelas sesama perantau ditambah tiga orang guru yang 100% asli warga China mengunjungi sebuah museum sejarah di pusat kota Zhengzhou. Seperti dugaan kami,museum itu menyimpan banyak catatan sejarah China mulai dari penjelasan setiap dinasti hingga barang-barang peninggalan zaman dahulu yang dirangkum dengan cermat dan jelas. Dan Minggu ini pun ditutup dengan sangat manis karena saya berkesempatan untuk mengisi waktu saya bersama anak-anak yatim piatu dari Zhengzhou. Betapa beruntungnya saya bisa bertemu dengan anak-anak hebat tersebut dan juga ayah serta ibu asuh mereka yang begitu saya hormati. Mereka semakin bertambah spesial di mata saya saat saya tahu mereka juga muslim. Ibu setengah baya itu menghampiri saya dan berbicara dengan bahasa China. Walaupun saya tidak menangkap semua kata yang beliau ucapkan, saya bisa mengerti bahwa beliau senang bisa bertemu dengan saya (yang beliau sudah bisa tebak adalah seorang muslim, terlihat dari jilbab saya). Begitu juga saya! Rasanya seperti bertemu sanak saudara dekat yang sudah lama terpisah. Dengan pasti ibu itu meminta saya mampir ke rumahnya. Saya pun dengan mantap berkata “ya!” sambil berharap bahasa China saya semakin fasih sehingga saya dapat berkomunikasi lebih baik dengan ibu itu saat berkunjung nanti. Amiin.

Alhamdulillah, benar-benar tidak ada kata yang lebih tepat dari kata “syukur, alhamdulillah” atas semua yang saya alami hingga saat ini. Pengalaman saya di China sejauh ini memang tidak melulu menyenangkan. Musibah “kecopetan” hingga “sama sekal tidak paham bahasa yang saya dengar di sekitar” bukanlah hal mudah. Namun seperti kata teman saya bahwa pasti ada pelangi setelah hujan, maka saya percaya pasti ada kemudahan dibalik setiap kesulitan. Untuk itu saya selalu menanti dengan semangat setiap hari baru disini. Akhir kata, salam hormat untuk orang tua saya, bapak rektor, bapak ibu wakil rektor, dosen, kakak-kakak, teman-teman di UMY dan banyak lagi orang-orang tersayang yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang mungkin membaca newsletter ini. Semoga kabar dari negeri tirai bambu ini dapat membayar doa dan dukungan yang tidak putus-putus untuk saya disini.

Wassalammualaikum..

Salam hangat sehangat teh China,

Rizkya (:

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site