Hijrah Karena Allah, Bukan Karena Paksaan atau Tekanan

Desember 30, 2017 oleh : BHP UMY

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan”

Rangkaian acara BEM FEB UMY mencapai puncaknya dengan diadakannya tabligh akbar pada hari Jumat (29/12), yang bertemakan “Bersamamu Kutemukan Arti Hidup”. Ustad Talqis Nurdianto, Lc., MA dalam Tabligh Akbar ini membawakan materi mengenai hijrah. Di awal sesi ia sempat menanyakan kepada mahasiswa yang hadir, apakah mereka datang ke majelis tersebut hanya karena ingin menemui seseorang. Majelis yang dilaksanakan dalam rangkaian acara Muslim Muda Mendunia BEM FEB UMY ini dimulai setelah Isya di Masjid KH Ahmad Dahlan UMY. Tidak hanya Ustad Talqis yang juga hadir sebagai pembicara, namun BEM FEB UMY juga menghadirkan Ustad Berri El Makky.

Sebagai pembicara pertama, Ustad Talqis menyampaikan bahwa alasan Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk, karena adanya filosofi di dalamnya. “Wanita itu terbuat dari tulang rusuk kaum adam, bukan tercipta dari tulang yang lainnya. Wanita tercipta dari tulang rusuk karena tulang rusuk dekat dengan hati agar wanita dapat dicintai. Wanita tercipta dari tulang rusuk karena tulang rusuk dekat dengan tangan, agar wanita dapat dilindungi,” ungkap Talqis, yang juga dosen Pendidikan Bahasa Arab UMY ini lagi.

Talqis melanjutkan, jika sebuah hijrah hanya diniati hanya karena manusia, maka tidak akan bertahan lama. Namun jika hijrah tersebut dilandaskan karena Allah maka niscaya apapun yang menghanlangi tidak akan tergoyahkan. “Kebanyakan orang-orang yang hijrah karena ikut arus, mereka tidak akan lama hijrahnya. Ketika anda kecewa dengan hijrah anda, maka hijrah anda memang diniatkan bukan karena Allah, melainkan hanya karena menginginkan sesuatu. Ingat, bahwa segala sesuatu itu berasal dari sholatnya, jika seseorang sholat namun orang tersebut tidak baik, maka dipertanyakan sholatnya. Berubah menjadi baik itu keharusan. Sebaik-baiknya perubahan, maka perubahan yang dilandasi oleh ridho Allah,” tambahnya.

Senada dengan Ustad Talqis, Ustad Berri El Makky mengungkapkan bila hijrah yang baik adalah hijrah yang meningalkan kebiasaan-kebiasaan lama. “Kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah dan tidak baik bagi diri kita dan juga bagi orang lain, maka tinggalkan. Ganti dengan kegiatan yang lebih produktif dan juga lebih bermanfaat bagi orang lain. Tiga kegiatan orang muslim yang dapat kita amalkan dalam meninggalkan kebiasaan lama, pertama membaca Al-Quran, kedua Sholat dan yang terakhir infaq,” tambahnya.

Barri juga berpesan agar selalu ingat dengan Al-Quran. “Lembur buat tugas saja bisa, lembur untuk kerja saja bisa, bermain hingga larutpun bisa, masa lembur untuk mengaji tidak bisa. Jadilah muslim muda mendunia, dengan Al-Quran,” tutup Barri. (Darel)