Herry Zudianto: Jadilah pengusaha untuk membantu orang lain

April 29, 2011 oleh : BHP UMY

Untuk menjadi pengusaha, jangan pernah berkeinginan menjadi kaya. Jika kaya adalah keingingan yang ingin diwujudkan dengan menjadi pengusaha, maka orang tidak akan pernah menjadi pengusaha karena orang tersebut tidak akan pernah kaya. Jadilah pengusaha yang ingin membantu dan memberikan pelayanan kepada orang lain.

Demikian disampaikan Walikota Yogyakarta sekaligus Praktisi Manajemen Pemerintahan, H. Herry Zudianto, S.E., Akt., MM. Ia hadir sebagai keynote speaker dalam Seminar Internasional “Toward Excellent Small Business yang digelar Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi UMY, di Kampus Terpadu UMY, Rabu (27/4).

Menurutnya, Enterpreneurship atau kewirausahaan selalu menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Di saat angka pengangguran masih cukup tinggi, entrepreneur lahir sebagai orang yang jeli melihat peluang dan tidak gamang menghadapi kesulitan (risk-taker). Kewirausahaan itu pada dasarnya untuk semua orang karena hal itu dapat dipelajari.

“Sepanjang kita bersedia membuka hati dan pikiran untuk belajar, maka kesempatan untuk menjadi wirausaha tetap terbuka. Sepanjang kita sadar bahwa belajar pada hakekatnya merupakan suatu proses yang berkelanjutan, yang tidak selalu berarti dimulai dan berakhir di sekolah atau universitas tertentu, tapi dapat dilakukan seumur hidup, dimana dan kapan saja, maka berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja,” jelas Herry.

Munculnya kecanggihan teknologi informasi saat ini, Ia mengungkapkan kewirausahaan semakin memiliki peluang yang besar dalam menjangkau pelanggan dan memudahkan pemasaran. Herry menambahkan, Yogyakarta merupakan kota yang sangat terbuka dalam peluang industri kreatif. “Oleh karenanya, kembangkan jiwa entrepreneurship Anda dan jadikan bangsa Indonesia berdaulat dalam bidang ekonomi. Untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship, kejujuran adalah modal dasar yang harus dimiliki seorang wirausaha. Selanjutnya, hal lain seperti kreativitas, inovasi, dan risk-taker baru menjadi karakter yang perlu dimiliki wirausaha,” tegas Herry.

Ia mengatakan jika generasi muda hendaknya didorong untuk mampu mengubah mentalitas dan standar berpikir. Selama ini, yang tampak di permukaan adalah fenomena “generasi instan” sehingga generasi muda banyak yang bermimpi cepat sukses, kaya, dan terkenal. Kewirausahaan hendaknya jangan dipahami hanya sekadar kemampuan membuka usaha sendiri. Namun lebih dari itu, kewirausahaan harus dimaknai sebagai momentum untuk mengubah mentalitas, pola pikir, dan perubahan sosial budaya.

“Kita ingin lahir banyak generasi baru yang jago dalam inovasi dan aplikasi teknologi untuk mampu mengelola sumberdaya yang berlimpah di negeri ini. Dengan demikian dapat mengurangi, syukur-syukur menghilangkan ketergantungan kita kepada bangsa lain,” terang Herry.

Lebih lanjut, Ia memaparkan dengan adanya keleluasaan yang lebih besar pada daerah, maka hal ini semakin menuntut kemampuan daerah untuk mengoptimalkan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam aspek ekonomi, salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk optimalisasi sumberdaya dengan lebih komprehensif adalah pengembangan ekonomi lokal (local economy development).

Sementara itu, Ketua Prodi Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UMY, RR. Sri Handari Wahyuningsih, M.Si mengungkapkan sebagai sebuah tonggak utama perekonomian bangsa, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peran strategis di Indonesia. Namun berbagai permasalahan yang dihadapi bisnis kecil tersebut, salah satunya akibat lemahnya karakter wirausaha. Akibatnya, UMKM pun kurang berdaya saing tinggi. Oleh karenanya, diperlukan evaluasi dan pengembangan jejaring entrepreneurship dalam melakukan optimalisasi sinergis antara perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, dan swasta demi mengembangkan kewirausahaan di Indonesia.

Untuk mengatasi permasalahan itu, BUMN memberikan andil cukup besar bagi penguatan modal melalui program Corporate Social Responsibility atau CSR nya. “Namun jika dilakukan evaluasi, permasalahan sebenarnya terletak pada lemahnya karakter wirausaha yang dimiliki sebagian besar UMKM khususnya usaha mikro sehingga hal ini seringkali menyebabkan UMKM tidak tahan banting ketika menghadapi permasalahan usaha atau munculnya Penanaman Modal Asing (PMA),” jelas Sri Handari.

Oleh karena itu, Ia menilai pihak terkait perlu duduk bersama dan melakukan evaluasi serta menyamakan persepsi mengenai pola pengembangan UMKM agar memiliki daya saing kuat. “Komitmen pemerintah dalam mengembangkan UMKM sebagai tonggak perekonomian semestinya juga dibarengi dengan kebijakan yang konsisten. Jejaring yang lebih sinergis antara UMKM, Pemerintah, BUMN, dan Perguruan Tinggi juga perlu disusun sehingga program yang dijalankan tidak terkesan parsial,” urainya.

Seminar tersebut menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Deputy Director School of Business and Services ITE College East, Singapore, Mr. David Tham, Comdev Area-4 Jawa Tengah dan DIY PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Drs. Agus Suhartanto, MM, dan Direktur Keuangan PT Phapros, Tbk, Sutiyono,S.E., serta pelaku UKM Mitra BUMN.