FKIK UMY Selenggarakan Diskusi Hadapi SJSN 2014

Oktober 26, 2013 oleh : BHP UMY

Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menjadi isu terhangat dunia kesehatan terkini. Para dokter umum pun dituntut untuk bisa menghadapi tantangan yang lebih kompleks pada era SJSN 2014 mendatang. Karena itu, untuk memberikan bekal pengetahuan pada para dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan diskusi panel tentang strategi, tantangan, dan peluang dokter layanan primer di era SJSN 2014.

SJSN sendiri merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial bagi setiap orang atau warga. Tujuannya agar setiap orang atau warga negara berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak. Di samping itu juga untuk meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera. SJSN ini dijalankan dengan cara iuran yang dibayarkan secara rutin oleh para pesertanya. Sementara itu, pesertanya merupakan setiap orang atau keluarga, dan besaran iurannya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. SJSN yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) ini juga akan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014.
Adapun pada diskusi panel yang diselenggarakan pada Sabtu, (26/10) ini, dr. Gatot Subroto, M.Kes., kepala KCU PT. ASKES Bandung Region V mengatakan bahwa BPJS sudah melakukan beberapa langkah dalam rangka menyambut SJSN, diantaranya seperti pemetaan kebutuhan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah atau kabupaten. “Kemudian melakukan profiling (melihat profil) masing-masing wilayah, analisa kebutuhan peserta, kredensialing, kesepakatan tarif untuk iuran, dan terakhir melakukan kontrak dengan pihak yang diajak kerjasama pengadaan fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Selain itu, menurut Gatot, dokter umum atau pun dokter spesialis juga diharapkan bisa berpartisipasi dalam penyelenggaraan SJSN ini. Dokter umum atau dokter layanan primer bisa ikut berpartisipasi dan membantu dengan mendirikan klinik pertama dan pengobatan pertama. “Dokter umum tugasnya di situ. Kemudian juga bisa membantu dengan mendiagnosa penyakit secara benar dan tepat. Agar kalau diagnosa tepat, juga bisa diketahui apakah pasien itu perlu dirujuk ke klinik atau layanan kedua (rumah sakit) dan dokter spesialis atau tidak. Kalau diagnosanya tepat, juga bisa dirujuk pada dokter spesialis yang tepat,” paparnya.
Dokter umum atau layanan primer menurutnya juga harus mendidik masyarakat agar tidak manja. Karena terkadang, dokter itu yang memanjakan pasiennya. “Masyarakat itu juga harus diberi pendidikan, agar mereka tidak terus-terusan pergi ke dokter. Kalau penyakitnya ringan, harus diberikan edukasi agar bisa menangani sendiri. Sebab kalau mereka terus-terusan ke dokter, itu juga akan memberatkan mereka dalam hal pembiayaannya,” tuturnya.
Sementara itu, dokter spesialis juga diharapkan membantu dan diberi tugas piket jaga di klinik-klinik atau layanan primer seperti puskesmas. “Karena selama ini, yang punya tugas piket jaga itu baru dokter umum saja. Jadi, dokter spesialis harusnya juga diberi tugas jaga di klinik-klinik atau layanan primer itu. Tujuannya juga agar bisa mempermudah pasien kalau dia harus dirujuk pada dokter spesialis,” ujarnya.
Di sisi lain, dr. Agus Widyatmoko, Sp. PD, M. Sc., dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKIK UMY menjelaskan mengenai upaya pencegahan preventif pada penderita diabetes dan hipertensi. Menurutnya, melalui gaya hidup sehat dan dengan melakukan diet serta olah raga rutin ternyata mampu mengurangi resiko peningkatan penyakit diabetes pada penderita prediabetes. “Orang yang terdiagnosis prediabetes, kemungkinan besar ke depannya dia akan menderita diabetes. Karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan, agar diabetesnya tidak cepat meningkat dan parah. Dan salah satu pencegahannya bisa dengan menjalani gaya hidup sehat, diet, dan olah raga,” paparnya.
Sementara itu, untuk penderita hipertensi atau penyakit jantung lainnya, pencegahannya bisa dilakukan dengan banyak mengkonsumsi buah dan sayur. Bahkan dr. Agus juga pernah melakukan penelitian pada beberapa penderita hipertensi dengan memberikan mereka makanan buah sirsak dua kali dalam sehari disertai obat hipertensi. “Dan hasilnya cukup signifikan. Para pasien hipertensi, setelah mengkonsumsi buah sirsak disertai obat hipertensi selama 4 minggu tekanan darah mereka mengalami penurunan yang cukup siginifikan. Jadi, penderita dua penyakit itu (hipertensi dan diabetes), memang dianjurkan untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang banyak. Karena keduanya sama-sama mengandung magnesium yang bisa mencegah terjadinya diabetes dan hipertensi,” pungkasnya.