Film Indie, Angkat Realitas Masyarakat

September 23, 2011 oleh : BHP UMY

Gagasan untuk mengangkat nasionalisme dalam sebuah film pendek ternyata mampu mengantarkan sebuah film ‘bermodal’ murah menjadi finalis dalam festival film. Selama ini film yang beredar di industri perfilman Indonesia kebanyakan hanya bertema cinta, padahal sebenarnya Indonesia kaya dengan banyak realitas seperti multikulturalisme, budaya, maupun kasus-kasus sosial yang bisa diangkat dalam sebuah film. Sekarang ini, sudah seharusnya para sineas (pembuat film) bisa melihat banyak realitas di masyarakat, lalu mengangkatnya sebagai sebuah film. Sehingga bisa mendinamisasi dunia perfilman di Indonesia, khususnya Film Indie.

Hal tersebut diungkapkan Arif Kurniar Rakhman di sela-sela acara “Road Film” Finalis Festival Film TVRI Kamis (22/9) siang di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Acara Road Film ini merupakan kerja sama DINI Media Pro, Get Picture, dan CIKO (Cinema Komunikasi) UMY.

Acara ini merupakan acara screening film dan diskusi tentang film. Dua film pendek yang diputar berjudul “Sepatu Untuk Kakek” produksi Dini Media Pro dan “Kain Bendera” produksi Get Picture, sedangkan CIKO sendiri merupakan komunitas Film UMY yang pada kesempatan ini digandeng untuk penyelenggara di UMY.

“Sepatu Untuk Kakek” ,yang disutradarai oleh Bambang C. Irawan, mengisahkan tentang kehidupan seorang pensiunan anggota TNI yang pada masa tuanya justru hidup sangat sederhana. Yang menjadi kebanggaan hanya sepatu semasa perjuangannya. Sedangkan film kedua yang bertajuk “Kain Bendera” mengisahkan tentang wanita Tionghoa yang menjadi korban woman trafficking (perdagangan wanita) lalu gila, namun dalam kegilaannya dia selalu menggambar bendera Indonesia. Film kedua ini terinspirasi dari kerusuhan di Solo pada tahun 1998.

Diskusi yang digelar setelah pemutaran film berlangsung menghadirkan nara sumber dari DINI Media Pro dan Get Picture. Nara sumber yang dihadirkan membahas tentang seputar film yang diputar, baik ide maupun proses penggarapannya.

Salah satu pembicara dari DINI Media Pro, Taufik Ridwan, keinginannya untuk terus bisa memproduksi film-film bertema nasionalisme dan mengajak CIKO untuk terus berkarya. “Harapan saya, teman-teman CIKO bisa membuat film bagus, minimal tiga bulan sekali. Yang penting adalah menang lomba. Itu merupakan sebuah kebanggan,” ungkap Taufik.

Sedangkan Wisnu Agung Febriana, ketua panitia acara, mengungkapkan apresiasinya atas terlaksananya acara ini. “Saya senang acara ini bisa diadakan di UMY, acara roadshow film ini merupakan bentuk apresiasi terhadap sebuah karya film, khususnya film indie. Harapannya, semoga acara-acara pemutaran film seperti ini akan lebih sering digelar,” ujarnya antusias.

Sharing is caring!