Dua Mahasiswa IPIEF UMY Presentasikan Isu Perbankan Syariah pada Konferensi Internasional di Melaka, Malaysia.

Mei 31, 2016 oleh : BHP UMY

IMG-20160530-WA001

Seiring dengan visi misi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai kampus Muda Mendunia, International Program of Islamic Economics & Finance (IPIEF) UMY mencoba terus menggalakkan visi misi ini dengan secara kontinu mendelegasikan para mahasiswanya untuk aktif dalam berbagai event internasional. Baru-baru ini, 2 mahasiswa IPIEF, yakni Dedy Fahrul Rahman (IPIEF 2014) dan Muhammad Fikri Maududi (IPIEF 2015) diundang untuk mempresentasikan tulisannya yang berjudul “Assesing Islamic Banking Stability in Indonesia”. Tulisan ini mereka paparkan dalam “The 18th Malaysian Finance Association Conference (MFAC) and The 7th Islamic Banking, Accounting, and Finance (iBAF) 2016” di Melaka, Malaysia 30 Mei 2016.

Menurut Dimas B.Wiranatakusuma, SE., M.Ec, selaku dosen pembimbing Dedy dan Fikri, melalui rilis yang diterima oleh Biro Humas dan Protokol UMY pada Senin (30/5) mengatakan bahwa kedua mahasiswanya tersebut memaparkan tentang level stabilitas dari perbankan Syari’ah di Indonesia. Untuk mengetahui level stabilitas tersebut kedua mahasiswanya menyusun indeks stabilitas perbankan Syari’ah dan mengukur seberapa besar dampak variabel makro terpilih terhadap instabilitas perbankan Syari’ah.

“Dengan menggunakan metode Logit dan Vector Auto Regressive, mereka menyatakan bahwa perkembangan stabilitas perbankan Syariah di Indonesia dapat diungkap dengan baik, termasuk krisis 2008. Selain itu, ternyata stabilitas perbankan Syariah di Indonesia tidak banyak dikontribusikan oleh variabel makro, dibuktikan dengan kecilnya kemungkinan terjadinya instabilitas pada perbankan Syariah. Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa penyebab instabilitas pada perbankan Syariah lebih kepada kelemahan internal perbankan Syariah,” jelas Dimas.

Dimas melanjutkan bahawa hal tersebut cukup beralasan mengingat operasionalisasi perbankan Syariah adalah berbasis aset, penghindaran spekulasi, dan cenderung kepada pemberdayaan sektor riil. “Dengan demikian, mereka menyarankan untuk optimalisasi kebijakan mikroprudential, dimana kebijakan ini menekankan pada pemeliharaan kesehatan dan ketahanan perbankan dari sisi internal, meliputi manajemen likuiditas dan kredit sehingga diharapkan dapat mengatasi kelemahan internal di perbankan Syariah,” ungkapnya.

Delegasi UMY yang diwakili oleh Dedy dan Fikri, menurut Dimas juga cukup menyita perhatian publik karena satu-satunya presenter dalam konferensi tersebut yang masih berstatus sarjana. “Kesempatan mereka untuk tampil dalam presentasi di konferensi ini memberikan kesan positif bahwa UMY telah berhasil mendorong segenap civitas akademika untuk muda dan mendunia,” imbuhnya.

Dimas juga menamabahkan bahwa konferensi tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 delegasi dari beberapa kampus di Malaysia dan dunia. Sementara universitas dari Indonesia yang menjadi wakil dalam konferensi tersebut adalah UMY dan Universitas Airlangga.