Cadangan Energi Fosil dari Minyak dan Gas Bumi Diperkiran Bisa Habis pada 2025

Juni 3, 2014 oleh : BHP UMY

Ir. F.X Sutijastoto, MA, Kepala Pusat Riset dan Pengembangan, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, saat menjadi keynote speech dalam acara 2nd International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) yang bertemakan “Technology and innovation challenges in natural resources management for humanity and sustainability”

Cadangan energi fosil berupa minyak dan gas bumi yang selama ini digunakan oleh Indonesia, diperkirakan akan semakin berkurang dan mungkin bisa habis pada tahun 2025. Desifit energi pun akan diperkirakan semakin membengkak, hingga membuat Indonesia tak mampu lagi memenuhi kebutuhan energi dari negerinya sendiri. Dengan kata lain, Indonesia akan lebih banyak mengimpor kebutuhan energinya dari negara asing. Sementara kekayaan sumberdaya alam selain fosil, yang juga dimiliki oleh Indonesia masih sangat jarang digunakan dan diinovasi. Sekalipun ada yang berhasil menginovasinya, namun implementasi dan aplikasi langsung bagi kehidupan masyarakat juga kurang, karena kurang didukung pula oleh pemerintah lokal, industri, serta para investor.

Demikianlah benang merah dari pemaparan Ir. F.X Sutijastoto, MA, Kepala Pusat Riset dan Pengembangan, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, saat menjadi keynote speech dalam acara 2nd International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) yang bertemakan “Technology and innovation challenges in natural resources management for humanity and sustainability”. Acara ICoSI yang kedua ini diselenggarakan di Ruang Sidang AR. Fakhruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu UMY, pada Selasa (3/5), dan terselenggara berkat kerjasama UMY dengan ​Association of Universities of Asia and the Pasific (AUAP), Technische Universiteit Eindhoven University of Technology (TU/e) dan Singapore Polytechnic (SP)​. ​

Menurut Sutijastoto, Indonesia saat ini juga tengah mengalami krisis energi. Pengelolaan energi yang kini sedang berlangsung masih untuk jangka pendek, belum mengupayakan untuk penggunaan jangka panjang. “Padahal, untuk mengelola energi itu harus terus menerus, atau berkelanjutan. Agar bisa menciptakan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakatnya,” ujarnya.

Indonesia juga masih dikatakan kurang bisa mempertahankan ketahanan energinya. Sebab menurutnya, ketahanan energi itu merupakan kemampuan untuk merespon dinamika dari perubahan global dan memberikan pasokan energi pada masyarakat dengan harga yang terjangkau. “Sementara itu, di Indonesia ini kaya akan sumberdaya alamnya. Ketersediaan energi dari sumberdaya alamnya, selain minyak dan gas, juga banyak, tapi untuk akses dan pengelolaannya kurang. Padahal ketersediaan energi itu adalah faktor pendorong ekonomi masyarakat,” paparnya.

Sutijastoto melanjutkan, Indonesia juga masih sangat bergantung pada minyak. 50 persen energi yang digunakan berasal dari minyak, dan bersumber dari impor. Jika hal tersebut terus menerus berlangsung tanpa ada inovasi energi terbarukan, maka bisa diperkirakan pada tahun 2025 Indonesia tidak akan bisa mendapatkan cadangan energi yang cukup. “Akibatnya, kita akan lebih banyak mengimpor minyak. Hal yang sama juga terjadi pada cadangan energi gas bumi. Gas ini juga hanya akan memenuhi 50 persen kebutuhan, sementara sisanya akan membuat kita melakukan impor lagi,” jelasnya.

Karena itu, menurut Sutijastoto, teknologi dan inovasi untuk membantu ketahanan energi ini memang sangat diperlukan, agar bisa membentuk lingkungan dan masyarakat yang berkelanjutan. Dari inovasi dan teknologi itu nantinya akan menciptakan energi terbarukan yang bisa menjamin pasokan energi agar bisa dipakai secara berkelanjutan, dan emesi lingkungan juga akan berkurang.

Namun, Sutijasto mengakui jika untuk mendukung inovasi energi terbarukan ini ternyata masih memiliki banyak kendala. Seperti kurangnya lahan untuk bio mas, pemerintah yang masih kurang menghargai atas kerja keras penemu (inovator), minimnya investasi untuk melanjutkan inovasi tersebut, hingga industri-industri yang kurang percaya dengan hasil inovasi energi terbarukan yang telah berhasil dibuat oleh orang-orang Indonesia.

“Kita bisa mempertahankan ketersediaan energi yang awalnya hanya bertumpu pada minyak dan gas saja, pada energi terbarukan lainnya melalui inovasi-inovasi dan teknologi. Akan tetapi, hal itu tidak akan terwujud jika hanya kita atau kalangan akademisi saja yang berusaha melakukannya. Kita butuh kerjasama semua pihak untuk mewujudkan energi berkelanjutan ini, khususnya bersama tiga bagian tersebut. Yakni, akademisi, industri, dan pemerintah. Agar kita juga bisa bersama-sama mewujudkan penciptaan lapangan kerja, dan kita bisa mengimplikasikan hasil inovasi-inovasi energi terbarukan tersebut secara mandiri serta bisa mengembangkan manufacturing berbasis lokal. Sebagaimana yang dicita-citakan oleh Litbang ke depan,” pungkasnya. (sakinah)