Pemeringkatan Universitas Bukan Jalan Bagi PT Untuk Menjadikannya Berkelas Internasional

September 21, 2013 oleh : BHP UMY

_MG_5573Perguruan tinggi – perguruan tinggi di Indonesia, jika ingin menjadi perguruan tinggi bertingkat internasional jangan hanya memfokuskan dirinya pada pemeringkatan universitas. Pemeringkatan itu bukan menjadi jalan bagi mereka untuk menjadi perguruan tinggi berkelas internasional. Sebab pemeringkatan itu bisa jadi racun bagi perguruan tinggi, karena indikatornya yang naik turun. Selain itu, para stake holder universitas akan disibukkan dengan memfokuskan dirinya hanya untuk meningkatkan peringkatnya, akibatnya energi terkuras, dan publikasi serta proses pendidikannya bisa terhambat.

Demikian pemaparan Dr. BM. Purwanto, MBA., reviewer dari The Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) International, dalam seminar bertajuk “Membangun Fondasi dan Kapabilitas Menuju Perguruan Tinggi Berkualitas Internasional”, di Ruang Sidang Utama Gedung AR. Fakhruddin A lantai 5, Jum’at (20/9). Seminar ini digagas oleh Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan dihadiri oleh pejabat struktural universitas serta dekan dan dosen dari masing-masing fakultas di UMY.

Menurut Purwanto, jika sebuah perguruan tinggi ingin memiliki kapabilitas internasional harus memastikan terlebih dahulu, apakah mereka peduli dengan akreditasi atau pemeringkatan. “Akreditasinya dari lembaga mana dulu, dan kalau pemeringkatan apakah itu visionable atau tidak? Karena pemeringkatan itu sama halnya seperti sistem pemasaran dalam bidang ekonomi. Indikasinya naik turun, dan akibatnya akan seperti yang saya katakan tadi,” paparnya.

Karena itu, lanjutnya, yang perlu dirumuskan pertama kali untuk menjadi World Class University adalah pada level manakah perguruan tinggi tersebut akan bermain. “Kalau bisa bermain di tingkat Asia Tenggara, itu sudah cukup mewakili kita untuk bermain di tingkat internasional. Kedua, adalah bagaimana cara kita bermain di sana dan apa yang akan kita unggulkan? Apakah dari segi jaringannya, penelitiannya, atau pendidikannya. Dan ketiga, bagaimana jalan menuju ke sana (world class-red)? Hal ini bisa dilakukan dengan membuat rencana akreditasi dan progressive plan. Mampukah akreditasi itu membuat perubahan pada universitas, dan apakah universitas itu akan lebih maju,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM ini lagi.

Purwanto juga menjelaskan beberapa indikator yang menentukan apakah perguruan tinggi tersebut termasuk dalam tataran World Class University ataukah tidak. Ada lima indikator yang menentukan, yaitu teaching, research, citations, industry income, dan international outlook. “Dalam indikator teaching, yang bagus itu kalau mahasiswa doktoralnya lebih banyak daripada mahasiswa S1 nya. Dan kalau dari segi research, yang dilihat itu bagaimana perguruan tinggi itu bisa mendapatkan bank dana dari penelitian-penelitiannya,” jelasnya.
Namun menurutnya, dari beberapa hal yang menjadi indikator penilaian World Class University tersebut, ada dua hal yang paling penting yaitu kualitas dan kolaborasi. “Kualitas perguruan tinggi bisa diwujudkan dengan meningkatkan jumlah penelitian dari para dosennya. Karena dengan begitu, tidak akan ada omong kosong dalam perkuliahannya. Sementara itu, untuk kolaborasinya jangan pernah menganggap yang lain, universitas yang lain itu sebagai musuhnya, dan berhentilah untuk saling bersaing. Tapi yang dibutuhkan itu adalah saling berkolaborasi, agar pendidikannya dapat terus berjalan, dan akan ada manfaat lebih dari kolaborasi itu, seperti mahasiswa bisa belajar ke luar negeri dan mendatangkan mahasiswa asing ke perguruan tinggi di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu, Rektor UMY, Prof. Dr. Bambang Cipto, MA memaparkan bahwa Indonesia bisa dikatakan sudah ketinggalan zaman. Sebab menurutnya, jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia masih sedikit. Padahal saat ini sudah waktunya perguruan tinggi di Indonesia berani bersaing dengan perguruan tinggi luar. “Sekarang ini sudah waktunya kita bersaing secara global. Bukan lagi bersaing dengan sesama perguruan tinggi di negara sendiri,” paparnya.
Karena itu, lanjut Bambang, jangan lagi berpikir untuk tidak menerima mahasiswa asing dari perguruan tinggi luar. “Sebab kalau begitu, kita berarti masih mau hidup berleha-leha dan tidak mau berkembang, karena kita belum berani berhadapan dengan dunia. Dan sudah saatnya kita melihat hal fundamental dari perguruan tinggi asing, agar di masa depan kita bisa bersaing dengan mereka,” tuturnya.

Bambang juga berharap agar seminar ini dapat menjadi langkah awal bagi UMY untuk melangkah ke tingkat internasional. “UMY memang masih jauh dari World Class University, tapi saya berharap seminar ini menjadi langkah awal bagi kita untuk melangkah ke sana. Magister Manajemen UMY juga sudah mulai banyak mengundang dosen-dosen dari luar, dan semoga ini juga menjadi langkah awal kita,” ungkapnya. (addhuhry)