UMY Kembali Terjunkan 1900 Mahasiswa KKN Reguler dan Internasional

Januari 2, 2020 oleh : BHP UMY

Dalam rangka menjalankan catur dharma perguruan tinggi Muhammadiyah yang berbasis pada pengabdian masyarakat, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menerjunkan sebanyak 1900 mahasiswa yang terbagi menjadi 3 jenis Kuliah Kerja Nyata (KKN) yaitu, KKN Reguler, KKN Internasional In Bound dan KKN Internasional Out Bound. Seluruh peserta KKN kali ini terbagi ke dalam 184 lokasi. Persebaran KKN ada di 2 provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Kulon Progo. Sedangkan provinsi Jawa Tengah terdiri dari Kabupaten Pemalang, Boyolali, Wonosobo, Magelang, Kebumen. Untuk KKN Internasional terdapat di 2 negara yaitu Singapura dan Malaysia.

Dalam sambutannya Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P, IPM. menyampaikan bahwa ketika berada di lokasi KKN tidak perlu membawa program KKN yang terlalu banyak. “Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya para peserta KKN justru malah kewalahan banyak program yang tidak terlaksana. Kami berharap para peserta KKN cukup membawa program sedikit dan melaksanakan program desa yang sudah ada di lokasi KKN,“ ungkapnya dalam Seremoni Penerjunan KKN Reguler dan Internasional Selasa, (31/12) di Sportorium, Kampus Terpadu UMY.

Kegiatan KKN mahasiswa UMY ini sudah berlangsung rutin dan mengalami beberapa evaluasi dalam pelaksanaannya. Dalam konsepnya yang terbaru, program KKN UMY akan dimasukkan dalam konsep Desa Mitra, dimana kegiatan KKN UMY akan termasuk dalam salah satu kegiatan kemasyarakatan Desa Mitra. “Sebagai penyelenggara pengabdian masyarakat merasa perlu adanya roadmap pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan konsep pengabdian tridharma perguruan tinggi yang terukur dan mempunyai outcome yang jelas,“ ungkap Ketua Lembaga Penelitian, Publikasi, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Dr. Gatot Supangkat.

“Mahasiswa akan belajar memahami, belajar bersama masyarakat dan menjadi teman di dalam masyarakat. Karena bekal inilah, kalian yang akan memimpin negeri ini di masa depan, karena calon pemimpin masa depan harus paham terhadapat kondisi masyarakatnya. Seperti yang kita tahu bahwa desa merupakan miniatur kondisi negeri ini, jika desanya makmur Insyaa Allah negaranya juga maju,“ imbuh Gatot. (Ads)