Toedjoeh Kata’ Film Karya MM Kine Club UMY Menjadi Inspirasi Buku Sejarah

Agustus 26, 2019 oleh : BHP UMY

MM Kine Club adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang terdapat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). UKM yang bergerak dalam bidang perfilman tersebut telah melahirkan berbagai judul film dan berhasil bertemu dengan penonton-penontonnya. Salah satu yang fenomenal adalah film ‘Toedjoeh Kata’. Film besutan sutradara dari mahasiswa Hubungan Internasional UMY tersebut berhasil diputar di beberapa titik. Diantaranya, empat pulau di Indonesia, 13 kota, dan disaksikan kurang lebih 5000 penonton.

Tidak hanya itu, film yang mengangkat cerita tentang penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut juga menjadi salah satu inspirasi bagi penulis buku berjudul Toedjoeh Kata – Sebuah Ijtihad Konstitusi Siyasah Kebangsaan Zelfbestuur 1916-1959. Adalah Nunu Hamijaya yang mengaku menulis buku yang di dalamnya terungkap cukup banyak fakta sejarah di Indonesia tersebut, bermula dari film karya mahasiswa UMY berjudul ‘Toedjeh Kata’.

Dalam pemaparannya saat bedah buku di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada, Sabtu (17/08) silam, ia memaparkan bahwa latar belakang dirinya menulis buku ini adalah ingin menghadirkan semacam ingatan kolektif bagi umat Islam di Indonesia tentang peristiwa besar dalam sejarah, yakni dihapusnya tujuh kata di Piagam Jakarta ketika terjadi sidang penyusunan dasar negara.

Selain itu, Nunu juga mengatakan bahwa ingatan yang bersifat kolektif itu sangat penting bagi generasi muda saat ini. “Ingatan kolektif seperti ini amatlah penting bagi generasi muda, guna memahami jerih payah para ulama memperjuangkan syariat Islam selaku dasar negara dalam membuat undang-undang. Para ulama dulu telah melakukan sebuah itjihad konsitusi dan perjuangan seperti itu patutlah untuk kita lanjutkan sebagai generasi-generasi saat ini,” jelas Nunu.

Nunu juga menegaskan perlunya bagi generasi muslim kini mempelajari sejarah secara utuh supaya memahami bahwa kehendak menjadikan Islam sebagai dasar negara bukanlah sesuatu yang radikal, karena sesungguhnya itu merupakan rangkaian ingatan kolektif umat Islam dari generasi ke generasi.

“Sehubungan itu, patutlah kita mensyukuri kehadiran karya buku dan film ‘Toedjoeh Kata’ dapat menjadi sinergi pada upaya bersama merawat ingatan kolektif yang perlu dipelihara di kehidupan bernegara, agar kegigihan pejuang Islam dalam pergulatan merumuskan konstitusi bisa diteladani generasi kini,” tutupnya.

Menurut rencana, peluncuran buku bersama pemutaran film akan dilanjutkan secara keliling di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta dengan jadwal kegiatan yang dapat dipantau melalui laman resmi ‘Toedjoeh Kata’ pada facebook.com/toedjoehkatafilm untuk informasi lebih lanjut. (CDL)