Sistem Keuangan Syariah Belum Berani di Dunia Global

Maret 19, 2015 oleh : BHP UMY
Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman saat menjadi pembicara pada acara International ConferenceAccounting and Finance-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2015 (ICAF UMY 2015)

Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman saat menjadi pembicara pada acara International ConferenceAccounting and Finance-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2015 (ICAF UMY 2015)

Sistem keuangan Islam belum berani tampil berbeda dengan sistem keuangan global yang diterapkan di banyak negara. Hal tersebut tercermin dalam sistem keuangan yang dianut di berbagai negara-negara Islam saat ini,  misalkan sistem keuangan yang ada di beberapa negara muslim belum sepenuhnya mengikuti sistem keuangan syariah.

Hal itu diungkapkan oleh Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman dari University Sains Islam Malaysia (USIM), saat menyampaikan pemaparan materi pada acara International Conference on Accounting and Finance-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2015 (ICAF UMY 2015). Dengan tema “Challenge of the Adoption of International Financial. Reporting Standards (IFRS) in South East Asia”, yang di laksanakan bertempat di Ruang Sidang AR. Fachruddin B UMY, Rabu (18/03).

Abdul Rahim mengungkap bahwa salah satu hal yang menghambat penerapan sistem keuangan syariah secara murni adalah karena masyarakat muslim terlalu terperangkap dalam agenda globalisasi. Menurutnya, agenda globalisasi yang menjadi pengaruh bagi masyarakat muslim  terlalu besar untuk negara-negara berkembang, hal ini dikarenakan negara berkembang belum mempunyai kekuatan politik secara internasional.

“Selain agenda global terlalu besar buat kita sebagai negara yang masih membangun, hal yang juga amat sangat penting adalah kita ini miskin pengetahuan syariah, karena agenda lembaga keuangan Islam sebenarnya yang diterapkan saat ini adalah agenda bisnis semata” ujarnya.

Abdul mengatakan, bahwa memang saat ini banyak masyarakat muslim yang setuju dengan penerapan standar keuangan syariah, namun jika ​ditetapkan maka hanya beberapa negara saja yang mau mengikuti sistem tersebut, sedangkan mayoritas negara tidak mau mengikuti. Ia mengungkapkan bahwa hanya sebagian kecil negara-negara Islam yang mau mengikuti, seperti Jordania dan Bahrain.

“Kalau Arab Saudi tidak sepenuhnya lagi mau ikut, karena Saudi juga bergantung dengan negara mayoritas negara maju, sehingga kita menerima apa saja sistem yang diberikan dunia global untuk sistem keuangan Islam. Oleh karena itu, menurut  saya yang perlu kita didik adalah ilmu tentang syariah, dan berani untuk mengungkapkan kebenaran tentang syariah” jelasnya.

Selain itu, Abdul menambahkan, dampak IFRS pada akuntansi dan pelaporan lembaga keuangan Islam adalah pada pengaruh agama terhadap pelaporan keuangannya. Ia mencontohkan, agama dapat mempengaruhi bagaimana orang melakukan bisnis, bagaimana mereka membuat keputusan keuangan. Misalnya Agama Islam menghalangi pembiayaan utang dan melarang pembayaran bunga, hal ini terdapat pada lembaga keuangan Islam yang atur oleh syariah. Hal ini berbeda dengan tujuan  dari sistem keuangan barat yang mana pelaporan atau sistem keuangan memperbolehkan pembiayaan utang dan bunga, yang mana sistem ini sudah sangat diminta oleh masyarakat secara global. (Shidqi)