Seratus Tahun Berlalu, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Tetap Melayani Bangsa

November 14, 2019 oleh : BHP UMY

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional mengatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani”. Hal ini semakin mempertegas komitmen pemerintah yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Namun sebelum undang-undang dan program mengenai pendidikan usia dini dikeluarkan, Aisyiyah sebagai salah satu Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah telah lebih dulu menyelenggarakan Pendidikan ANAK Usia Dini (PAUD) sejak 100 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1919 Aisyiyah telah mendirikan Sekolah Frobel yang nantinya akan berganti nama menjadi Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA). Pada masa itu lembaga pendidikan bagi kaum pribumi kelas bawah tidak ada. Dengan pemikiran visioner tersebut, Aisyiyah telah melampaui zaman untuk memikirkan nasib anak-anak dan perempuan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. berkata bahwa pada saat itu tidak ada lembaga pendidikan bagi anak usia dini. Pasalnya sekolah yang telah berdiri hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan dan orang kulit putih.

“Asyiyah menjadi organisasi yang meletakkan pionir gerakan pendidikan anak usia dini. Pada saat itu memang belum ada komunitas atau gerakan yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia dini. Gagasan TK ABA itu sendiri juga diselaraskan dengan gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk melakukan pendidikan untuk anak-anak demi kepentingan sejak dini mendapatkan nilai-nilai ajaran, bersosialisasi dan berkomunikasi,” ujarnya saat ditemui di Gedung Pimpinan Pusat Aisyiyah Kota Yogyakarta, Selasa (12/11).

Saat ini telah dikenal masa emas (Golden Age), waktu dimana pembentukan karakter dan kualitas manusia. Fase ini hanya berlangsung sekali seumur hidup. Untuk itu keberadaan dari TK ABA menjadi tempat pengasuh sekaligus pendidikan anak selain di rumah. Keberadaan lembaga pendidikan tersebut dimaksudkan untuk menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Dengan tindakan tersebut, Aisyiyah telah berupaya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul bagi masa depan. Pemikiran ini telah dilakukan Aisyiyah sejak seratus tahun yang lalu.

“Melawan penjajah harus dengan cara yang cerdas. Salah satunya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan demi menjadikan masyarakat kita untuk menjadi cerdas. Baik pada masa lalu atau saat ini. Gerakan Aisyiyah dalam memperhatikan anak usia dini sudah terlaksana selama satu abad dan tersebar di berbagai pelosok negeri. Aisyiyah telah mengawali perjuangan ini sejak seratus tahun lalu dimana saat itu belum banyak yang memperhatikan anak kecil, bahkan peranan pemerintah pun belum ada. Sekarang usia dini yang disebut sebagai masa Golden Age, dalam perkembangannya ternyata Aisyiyah sudah pada jalur yang tepat. Bukan hanya “akan”, tetapi sudah berjalan dan terus berjalan,” imbuh Noordjanah.

Tepat sepuluh dasawarsa telah berlalu, perkembangan TK ABA telah tersebar di segala penjuru Tanah Air. Terdapat sekitar 20 ribu lembaga PAUD Aisyiyah yang telah menghasilkan ratusan ribu alumni. Zaman akan terus berganti, tentunya tantangan yang dihadapi oleh Aisyiyah dalam mengelola TK ABA juga terus berdatangan silih berganti. Untuk menjawabnya, Noordjanah mengatakan bahwa organisasi yang ia pimpin akan menguatkan tiga hal. Pertama adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik dan pengelola PAUD Aisyiyah. Hal ini ditunjukkan dengan dilaksakannya program beasiswa bagi pengajar untuk melanjutkan pendidikan lebih mendalam. Kedua adalah penguatan ideologi Islam dan negara. Dewasa ini, perkembangan informasi sangat masif terjadi. Ditambah lagi dengan adanya Revolusi Industri 4.0 yang menimbulkan banyaknya tantangan terutama perkembangan yang terkait dengan pemikiran Islam dan negara. Untuk itu Aisyiah akan menguatkan ideologi dengan memasukkan dalam metode mengajar dan kurikulum sesuai dengan ukurannya. Ketiga ialah semakin memperbaiki pengelolaan TK ABA di seluruh Indonesia dengan memperkuat koordinasi antar sekolah di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan supaya kualitas sekolah semakin merata.

Pada milad yang ke-100 yang akan digelar di Sportorium UMY pada Senin (18/11) ini, Aisyiyah mengusung tema “Berkhidmat Untuk Negeri”. TK ABA juga hadir di daerah terluar Indonesia seperti Natuna. TK ABA juga tidak hanya berada di tengah umat Islam seperti Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua tetapi menjadi pelayan dan penyedia jasa pendidikan bagi masyarakat. TK ABA tetap melayani semua agama dan berbagai kelas ekonomi. Sehingga seluruh lapisan masyarakat Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak sejak dini.

“Sekali pun menghadapi berbagai tantangan dan masalah, Aisiyah akan tetap berkomitmen untuk generasi yang akan datang. Kami berharap bahwa TK-TK ini semakin maju secara nasional. Jika sudah ada yang bagus, maka harus menjadi contoh untuk sekolah yang lain. Kita harus terus memunculkan sekolah-sekolah di berbagai daerah agar Aisyiyah hadir untuk kepentingan generasi yang akan datang dimana pun juga. Saat ini kita juga harus menjawab tantangan sesuai dengan nilai-nilai pandangan Muhammadiyah dan Aisyiyah,” pungkasnya. (ak)