Pertanian Asia Tenggara Pasca Pandemi Covid-19

Agustus 11, 2020 oleh : BHP UMY

Pertanian Asia Tenggara Pasca Pandemi Covid-19
Zuhud Rozaki, PhD.
Program Studi Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
zaki@umy.ac.id

Pendahuluan
Pandemi Covid-19 mempengaruhi kehidupan manusia di semua sektor, pertanian termasuk sektor yang terdampak pandemi ini. Tidak hanya di Indonesia, tetapi negara-negara lain di Asia Tenggara juga mengalama hal yang sama. Pandemi ini muncul dimulai dari Wuhan, China, dimana virus yang diduga dari binatang menyerang manusia. Kemudian virus ini menyebar ke seluruh dunia. Dari awalnya krisis kesehata, penyebaran virus ini menjadi kiris ekonomi, dan bisa saja menjadi krisi keamanan.
Malaysia sendiri untuk menerapkan Lockdown untuk mencegah penyebaran virus lebih luas lagi. Per tanggal 10 Juli 2020, total kasus sebanyak 8.696, sembuh 8.511 dan meninggal 121. Sedangkan di Indonesia tidak berani menerapkan lockdown karena dampak lockdown terhadap ekonomi yang sangat besar. Per 9 Juli 2020 ada 68.079 kasus, 31.585 sembuh dan 3.359 meninggal. Meskipun dampak dari pandemi terhadap kesehatan sangat besar, mengingat penyebaran virus yang sangat cepat, Indonesia tetap tidak berani menyerapkan lockdown, sebagai gantinya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah. Langkah itu dianggap bisa membatu meredam penyebaran virus yang sangat cepat (Zuhud, 2020).
Sementara di Laos, per 3 Agustus 2020 tedapat 20 kasus dan 19 sembuh. Sebagai negara kecil yang berada di tengah-tengah negara lain seperti Thailand dan Vietnam (Khamsing, 2020). Sedangkan Thailand, per 3 Agustus 2020 terdapat 3.317 kasus, 3.142 sembuh dan 58 meninggal. Negara dengan sebutan Gajah Putih ini sangat terpukul dengan adanya pandemi karena negara banyak menggantungkan sumber pendapatannya dari pariwisata, dimana masa pandemi ini jumlah wisatawan sangat menurun. Serta dampak lain yang dirasakan adalah ekspor produknya menurun (Yaowarat, 2020)
Negara Asia Tenggara lainnya yang terdampak dari pandemi ini adalah Pilipina, per 3 Agustus 2020 terdapat 85.486 kasus, 26.996 sembuh dan 1.962 meninggal. Meskipun negara ini sudah menerapkan lockdown sebelumnya, ternyata angka peninkatan jumlah kasus masih meningkat banyak (Arrienda, 2020).
Untuk menanggulangi dampak ekonomi dari pandemi, Malaysia dan Indonesia mengeluarkan stimulasi ekonomi. Seperti di Malaysia, stimulai ekonomi berupa permudahan pajak, dan program PENJANA (Pelan Jana Semula Ekonomi Negara) menjadi strategi kunci dalam memperbaiki ekonomi pasca pandemi. Dalam program ini terdapat upaya untuk memberdayakan rakyat, meningkatkan bisnis dan stimulasi ekonomi (Juwaidah, 2020). Sedangkan Indonesia, mengeluarkan dua stimulus, dimana yang pertama fokus pada sektor eknomi yang dapat menggerakkan bisnis, terutama pada pariwisata dan akomodasi. Stimulus kedua fokus pada program fiskal dan non fiskal untuk mendukung upaya expor impor produk yang bisa membantu penanggulangan Covid-19 (Kemenko Perekonomian RI, 2020).
Banyak negara di Asia Tenggara yang menggantungkan ekonominya pada pertanian, karena dengan kondisi iklim tropis, pertanian sangat memiliki potensi. Dengan munculnya pandemi ini, membuat pertanian di Asia Tenggara menjadi terngganggu. Oleh karen itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui dampak pandemi terhadap pertanian di Asia Tenggara, dari perspektif sekarang dan masa depan.

Pertanian Pasca Pandemi Covid-19
Sebagai sektor yang menjadi bagian dalam perkembangan ekonomi Asia tenggara, pertanian memiliki posisi penting, ketika ada sesuatu yang menyebabkan sektor ini kurang sehat, maka dampaknya akan dirasakan banyak orang. Pertanian Pasca pandemi Covid-19 menunjukkan adanya beberapa kendala yang terjadi. Di Malaysia, dampak pandemi terhadap pertanian yaitu menurunnya jumlah tenaga kerja, rusakanya supply chain, kesulitan dalam menjual produk pertanian, dilarangnya ekspor, dan penutupan restoran (Juwaidah, 2020). Sedangkan di Indonesia, pandemi lebih banyak berdampak pada meningkatnya harga input, terganggunya supply chain, dan permintaan pada produk pertanian tertentu yang berkurang terutama yang produk tersier (Rozaki, 2020). Sementara di Pilipina, pertanian terdampak pada supply chain dari petani ke konsumen, ditambah adanya lockdown (Arrienda, 2020). Kondisi di Laos tidak jauh berbeda, dimana dampak pandemi ini berupa berkurangnya permintaan terhadap produk petani, terbatasnya distribusi, dan meningkatnya harga beras dan daging (Khansing, 2020). Untuk Thailand, dampak yang paling dirasakan sektor pertanian adalah berkurangnya ekspor produk pertanian, padahal ekspor menjadi bagian penting dalam perkembangan pertanian di negara ini (Yaowarat, 2020).
Ada beberapa strategi atau usaha yang diterapkan untuk membantu sektor pertanian yang terdampak pandemi, pastinya di massing-masing negara berbeda-beda. Sistem pemerintahan mempengaruhi tipe program atau usaha yang dibuat. Di Indonesia, lewat Kementrian Pertanian membuat beberapa program yaitu Penyediaan bahan pangan pokok utamanya beras dan jagung bagi seluruh penduduk, percepatan ekspor komoditas strategis (sarang burung walet, sawit, kopi, kakao, lada, pala, jahe, dan lainnya) untuk mendukung keberlanjutan ekonomi, sosialisasi petugas untuk penccegahan berkembangnya virus corona, pembuatan atau pengembangan pasar tani di setiap provinsi, optimalisasi pangan loka, koordinasi infrastruktur logistik, pemanfaatan e-marketing, serta program padat karya agar sasaran pembangunan pertanian dicapai dan masyarakat langsung menerima dana tunai (Kementan RI, 2020). Sedangkan di Malaysia, program untuk menyelematkan pertanian berupa pembentukan komite ketahanan pangan, penyediaan pendampingan pada paket stimulus ekonomi, perbaruan sistem berbasis otomasi dan digitasi, pengembangan masa depan agri-entrepreneurs untuk kaum muda, meningkatkan e-commerce pada produk pertanian dan makanan, serta peningkatan kemitraan dengan pihak swasta (Juwaidah, 2020).

Kesimpulan
Dampak pandemi Covid-19 dirasakan semua sektor, termasuk pertanian. Negara-negara di Asia Tenggara mayoritas masih mengandalkan sektor pertanian sebagai salah satu penyumbang ekonomi negara. Dampak negatif yang dirasakan oleh sektor pertanian di beberapa negara di Asia Tenggara relatif sama, yaitu terganggunya supply chain dan meningkatnya harga input. Dua dampak ini bisa berakibat fatal jika tidak ada kebijakan untuk menanggulanginya. Masing-masing negara memiliki keunikan masing-masing, jadi perlakukan terhadap sektor pertanian memang berbeda-beda. Fokus pada strategi darurat dan jangka panjang perlu dilakukan agar dampak pandemi ini bisa ditanggulangi secara optimal.

 

Referensi
Arrienda, FQ. 2020. PHILIPPINE AGRIBUSINESS:A Post Pandemic Market Analysis. Disampaikan pada Internasioanl Webinar “Southeast Asian Agriculture Post Covid-19 Pandmei: Current and Future Perspectives” pada 11 Juli 2020.
Juwaidah. 2020. Agriculture and Food Sectors in Malaysi: Post Covid-19 Pandemic. Disampaikan pada Internasioanl Webinar “Southeast Asian Agriculture Post Covid-19 Pandmei: Current and Future Perspectives” pada 11 Juli 2020.
Kementan RI. 2020. Informasi terkini mengenai kebijakan Kementerian Pertanian dalam merespon Covid-19 serta tetap menjaga ketersediaan Pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumber: https://www.pertanian.go.id/home/?show=page&act=view&id=99. Diakses 7 Agustus 2020.
Kemenko Perekonomian RI. 2020. Pemerintah Umumkan Stimulus Ekonomi Kedua untuk Menangani Dampak COVID-19. Sumber: https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/183/pemerintah-umumkan-stimulus-ekonomi-kedua-untuk-menangani-dampak-covid-19. Diakses 7 Agustus 2020.
Keothoumma, K. 2020. Impact of COVID-19 on the agriculture sector in Lao PDR. Disampaikan pada Internasioanl Webinar “Southeast Asian Agriculture Post Covid-19 Pandmei: Current and Future Perspectives” pada 11 Juli 2020.
Rozaki, Z. 2020. Covid-19, Agriculture and Food Security in Indonesia. Disampaikan pada Internasioanl Webinar “Southeast Asian Agriculture Post Covid-19 Pandmei: Current and Future Perspectives” pada 11 Juli 2020.
Sriwaranun, Y. 2020. Thailand Agriculture Post Covi-19 Pandemic: Current and Future Perspectives. Disampaikan pada Internasioanl Webinar “Southeast Asian Agriculture Post Covid-19 Pandmei: Current and Future Perspectives” pada 11 Juli 2020.